Artikel

Sebelum Tiba di Madinah, Saya Menangis Tanpa Tahu Sebabnya

Oleh Muhammad Imdad | Disunting oleh Redaksi Turos Pustaka

Saya tidak tahu mengapa air mata itu tiba-tiba jatuh. Bus yang saya tumpangi bahkan belum sampai di Madinah ketika seorang petugas berdiri di depan dan mengajak seluruh jemaah melantunkan selawat. Suara pujian kepada Rasulullah bersahutan dengan deru mesin kendaraan yang melintasi hamparan bebatuan. Saya mencoba mengikuti lantunan itu, tetapi lidah mendadak kelu. Saya memalingkan wajah ke arah jendela, sementara air mata mengalir begitu saja di pipi. Entah apa penyebabnya. Saya hanya tahu bahwa semakin dekat perjalanan kami menuju Kota Nabi, semakin sulit rasanya menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dada.

Peristiwa itu terjadi pada 2019, ketika saya mendapat kesempatan menunaikan ibadah umrah untuk pertama kalinya. Sebagaimana jemaah pada umumnya, saya telah mempersiapkan berbagai keperluan, mulai dari mengikuti manasik, menjaga kesehatan, membaca literatur tentang Makkah dan Madinah, hingga menabung rindu kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diam-diam, saya juga menyusun daftar doa yang hendak dipanjatkan di depan Multazam, sekaligus berbagai keinginan yang ingin saya sampaikan ketika berziarah kepada Rasulullah. Saya membayangkan betapa istimewanya dapat menghaturkan salam kepada sosok yang selama ini hanya saya kenal melalui riwayat, kisah, dan selawat yang berulang kali dilantunkan. Saya begitu yakin perjalanan ini akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Hakulyakin.

Beruntung, rombongan kami dijadwalkan mengunjungi Madinah terlebih dahulu sebelum menuju Makkah. Kami akan berziarah kepada Rasulullah sebelum mengunjungi Baitullah. Dalam hati saya berpikir, begitulah semestinya urutan kunjungan yang proper: sowan kepada Sang Nabi sebelum bertamu ke rumah Tuhan. Namun, di balik segala persiapan dan harapan tersebut, saya tidak pernah menyangka bahwa perjalanan ini justru akan mengubah cara saya memahami sesuatu yang telah melekat pada diri saya sejak lahir, yakni nama saya sendiri.

Di Hadapan Makam Sang Nabi

Sesampainya di Madinah, saya berkesempatan memasuki lorong Bab al-Salam. Bersama ribuan peziarah lainnya, saya berjalan perlahan menuju al-Buq’ah al-Syarifah, tempat mulia yang menjadi makam Rasulullah, berdampingan dengan dua sahabat tercintanya, Abu Bakar al-Shiddiq dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhuma. Kami bergerak dengan langkah-langkah kecil, seperti koloni semut yang berbaris menuju tempat penyimpanan gula. Saya tidak tahu pasti berapa meter jarak antara pintu masuk dan makam Rasulullah. Tidak terlalu jauh, tetapi saat itu terasa begitu panjang. Dada saya berdegup semakin kencang, diselimuti perasaan gugup yang sulit dijelaskan. Barangkali begitulah perasaan seseorang ketika hendak bertemu sosok yang begitu dicintainya.

Semakin dekat dengan makam Rasulullah, semakin tampak orang-orang di depan saya menghadapkan tubuh ke arah kiri. Sebagian melambaikan tangan, sebagian melantunkan doa dan selawat, sementara yang lain menangis tersedu. Saya ikut menoleh. Di hadapan saya berdiri seorang askar bertubuh tegap yang tampak sigap mengatur para peziarah. Dari sela-sela tubuhnya, saya mencuri pandang ke arah bangunan dengan terali bermotif emas. Di sana terdapat penanda berwarna hijau yang menunjukkan posisi makam Rasulullah. Saya berusaha melempar pandangan sejauh mungkin, seolah sepasang mata ini sedang berusaha menggapai kerinduan yang selama ini hanya mampu saya simpan dalam hati.

Di hadapan makam Sang Nabi, mulut saya tidak henti-hentinya melantunkan selawat dan salam. Hingga tiba-tiba terlintas sebuah hadis yang menyebutkan bahwa setiap kali seseorang mengucapkan salam kepada Rasulullah, Allah mengembalikan ruh beliau sehingga dapat membalas salam tersebut (HR. Abu Dawud No. 2041). Pikiran saya pun mulai mengembara. Bukankah tidak ada waktu yang berlalu di dunia ini tanpa seseorang mengucapkan salam kepada Rasulullah? Mungkin saat itu ada seorang Muslim di pedalaman Afrika yang sedang melantunkan selawat. Mungkin pula seseorang di Eropa tengah mengirimkan salam. Atau barangkali, di Indonesia, ribuan manusia sedang menyebut nama beliau dengan penuh cinta. Lantas, bagaimana Rasulullah membalas semua salam itu?

Saya tertegun oleh pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepala. Sampai kemudian terlintas sebuah pikiran: mengapa saya tidak mengucapkan salam sendiri, dengan menghadirkan sepenuh hati kerinduan kepada beliau? Saya kembali melirik ke arah makam Rasulullah, lalu memejamkan mata sembari berucap lirih, “Ash-shalatu was-salamu ‘alaika ya Rasulallah. Shallallahu ‘ala Muhammad.”

Muhammad. Itulah namanya. Pada saat itulah saya menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak pernah benar-benar saya pahami: ternyata manusia membutuhkan sebuah nama untuk mengalamatkan cinta.

Sebuah Nama untuk Mengalamatkan Cinta

“Apalah arti sebuah nama?” Pertanyaan itu sebelumnya sering mengusik pikiran saya. Barangkali nama memang tidak lebih penting daripada sosok yang dinamai. Akan tetapi, jika nama tidak begitu berarti, mengapa manusia bersungguh-sungguh memilih nama bagi orang-orang dan hal-hal yang dicintainya? Mengapa kita memberi nama kepada anak, rumah, hewan peliharaan, bahkan kampung halaman? Mengapa pula Allah mengajarkan kepada Nabi Adam seluruh nama-nama sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 31? Apakah nama hanya persoalan tanda dan penanda sebagaimana dibicarakan dalam semiotika, atau sesungguhnya ada makna yang lebih dalam di baliknya?

Pertanyaan-pertanyaan itu menemukan jawabannya ketika saya berdiri di hadapan makam Rasulullah. Di sana, ribuan manusia dibuat terisak oleh kerinduan kepada sosok yang namanya mereka sebut berulang kali. Muhammad adalah nama yang telah melintasi berabad-abad sejarah, menjangkau berbagai bangsa dan bahasa, serta tetap hidup dalam doa dan ingatan jutaan manusia. Betapa banyak orang tua yang meminjam nama tersebut untuk disematkan kepada anak dan keturunan mereka sebagai ungkapan cinta kepada Rasulullah. Termasuk orang tua saya, yang memberikan nama Muhammad kepada saya sejak lahir.

Dalam khazanah keilmuan Islam dikenal ungkapan al-ismu ‘ain al-musamma, yang menempatkan nama dalam hubungan erat dengan hakikat sesuatu yang dinamai. Nama bukan sekadar rangkaian huruf, melainkan dapat menjadi identitas, cermin, sekaligus jalan bagi seseorang untuk mengenal sosok di baliknya. Orang Arab juga mengenal ungkapan katsrah al-asma’ tadullu ‘ala syaraf al-musamma, bahwa banyaknya nama menunjukkan kemuliaan sesuatu yang dinamai. Tidak mengherankan apabila Rasulullah memiliki begitu banyak nama dan sebutan indah yang menggambarkan keagungan pribadi beliau.

Imam al-Suyuthi dalam al-Bahjah al-Bahiyyah fi al-Asma’ al-Nabawiyyah menghimpun 99 nama Rasulullah. Dalam al-Mustawfa fi Asma’ al-Musthafa karya Ibn Dihyah, sebagaimana dikutip al-Halabi, disebutkan lebih dari 300 nama. Sementara Ibn al-Arabi al-Maliki menyebutkan jumlah yang lebih banyak lagi. Perbedaan jumlah tersebut memperlihatkan luasnya tradisi keilmuan Islam dalam menghimpun nama, sifat, dan gelar kemuliaan Rasulullah. Setiap sebutan menjadi cara untuk mengenang dan mengagungkan sosok yang begitu dicintai umatnya.

Kecintaan kepada Rasulullah juga tidak berhenti pada penyebutan nama. Selama berabad-abad, umat Islam memelihara ingatan tentang beliau melalui kisah-kisah kelahiran, perjalanan hidup, akhlak, dan kemuliaannya. Salah satu karya yang memiliki tempat dalam tradisi tersebut adalah Maulid al-Barzanji, sebuah karya yang menghadirkan kisah dan pujian kepada Rasulullah melalui bahasa yang sarat penghormatan. Tradisi pembacaan Barzanji menjadi salah satu cara umat Islam mengenang pribadi Nabi, sementara Syarah Barzanji membuka ruang bagi pembaca untuk memahami lebih dalam kisah, ungkapan, dan makna yang terkandung di dalamnya.

Melalui kisah-kisah semacam itulah kecintaan kepada Rasulullah terus diwariskan dari generasi ke generasi. Orang-orang yang tidak pernah menyaksikan wajah beliau tetap dapat merasakan kedekatan melalui pengetahuan, penghayatan, dan kerinduan. Saya sendiri menyaksikan bagaimana ribuan manusia yang hidup berabad-abad setelah wafatnya Rasulullah masih menangis ketika menyebut namanya. Sesuatu yang dahulu hanya saya pahami sebagai ungkapan kecintaan, kini hadir sebagai pengalaman yang begitu nyata.

Nama Muhammad: Antara Kebanggaan dan Amanah

Pada awalnya, menyandang nama Muhammad bagi saya adalah kebanggaan sekaligus beban. Saya bangga karena nama saya serupa dengan nama Sang Nabi, tetapi pada saat yang sama menyadari bahwa nama tersebut membawa amanah yang tidak ringan. Bagaimana mungkin saya menyandang nama manusia paling terpuji, sementara perilaku saya sendiri masih begitu jauh dari keteladanan beliau? Saya kira, harapan untuk menjadi pribadi yang baik dan berakhlak mulia jugalah yang mendorong orang tua saya memberikan nama tersebut. Sayangnya, jika harus menyandingkan perilaku saya dengan akhlak Rasulullah, kenyataannya masih jauh panggang dari api.

Di tengah kesadaran akan keterbatasan diri itu, saya menemukan secercah optimisme ketika membaca penggalan syair Imam al-Bushiri dalam Qasidah Burdah. Penyair yang juga memiliki nama Muhammad itu menuliskan sebuah bait yang terasa begitu dekat dengan keadaan saya:

Fa inna li dzimmatan minhu bi tasmiyati Muhammadan wa huwa awfa al-khalqi bi al-dzimami.

“Aku memiliki jaminan melalui namaku, Muhammad, yang sama dengan nama Sang Nabi. Sementara beliau adalah sosok yang paling menepati janji.”

Bait tersebut menyimpan pengharapan yang mendalam. Al-Bushiri melihat kesamaan nama dengan Rasulullah sebagai sesuatu yang menghubungkannya dengan sosok yang begitu dicintai. Melalui Qasidah Burdah, kerinduan, pujian, penyesalan, dan pengharapan dituangkan dalam syair yang terus dibaca serta direnungkan hingga hari ini. Kedalaman makna tersebut dapat ditelusuri melalui Syarah Burdah, yang menguraikan lapisan makna di balik bait-bait al-Bushiri dan memperlihatkan bagaimana kecintaan kepada Rasulullah menemukan ungkapannya dalam tradisi sastra Islam.

Sebagai seseorang yang juga menyandang nama Muhammad, saya merasa menemukan harapan ketika membaca bait itu. Bukan karena kesamaan nama dengan Rasulullah dapat menggantikan kewajiban untuk meneladani beliau, melainkan karena nama tersebut mengingatkan saya akan sosok yang patut dicintai sekaligus diikuti. Saya menyadari bahwa jarak antara diri ini dan akhlak Rasulullah masih teramat jauh. Namun, setidaknya saya memiliki sebuah nama yang terus mengingatkan ke arah mana seharusnya kehidupan saya ditujukan.

Muhammad Adalah Cinta

Kini saya memahami bahwa nama tidak selalu berhenti sebagai identitas. Ada nama yang mengandung harapan orang tua, ada yang menyimpan kenangan, dan ada pula yang menjadi tempat manusia mengalamatkan kerinduan. Nama Muhammad, bagi saya, mengandung semuanya. Ia menjadi kebanggaan, amanah, pengingat, sekaligus penghubung dengan sosok yang selama ini saya cintai tanpa pernah berjumpa secara langsung.

Jika pertanyaan “Apalah arti sebuah nama?” diajukan kepada Imam al-Bushiri, barangkali beliau akan menjawabnya melalui pengharapan akan keselamatan di akhirat. Sebagai salah seorang yang juga bernama Muhammad, saya menaruh harapan serupa. Semoga nama yang saya sandang menjadi pengingat untuk terus memperbaiki diri dan meneladani Rasulullah. Semoga pula, pada saatnya nanti, saya memperoleh kesempatan berkumpul bersama sosok mulia yang namanya saya pinjam sepanjang hidup.

Perjalanan ke Madinah itu mengajarkan kepada saya sesuatu yang tidak pernah benar-benar saya pahami sebelumnya. Sebuah nama ternyata dapat menyimpan cinta yang melampaui waktu, jarak, bahkan perjumpaan. Maka, jika hari ini seseorang kembali bertanya, “Apalah arti sebuah nama?”, saya tidak perlu berpikir terlalu lama untuk menjawabnya. Bagi saya, nama itu sangat berarti. Sebab Muhammad bukan sekadar nama. Muhammad adalah cinta.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sebelum Tiba di Madinah, Saya Menangis Tanpa Tahu Sebabnya Read More »

Ketika Kekuasaan Perlu Diingatkan: Membaca Politik Kaum Tertindas dan Panduan Melawan Tirani

BEKASI — Kekuasaan tidak hanya membutuhkan pemimpin yang baik. Ia juga membutuhkan batas, pengawasan, dan masyarakat yang berani bersuara ketika penguasa mulai menyimpang.

Gagasan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam peluncuran dan bedah buku Politik Kaum Tertindas: Bagaimana Islam Membongkar Keculasan Penguasa dan Mendorong Umat untuk Bersuara, yang digelar Turos Pustaka bersama IBP Library di Djon Books & Coffee, Bekasi, Sabtu (10/10/2026).

Buku terjemahan Nashihah al-Muluk karya Imam al-Ghazali ini membawa pembaca pada persoalan yang tetap relevan berabad-abad setelah teksnya ditulis: bagaimana seharusnya seorang penguasa memperlakukan kekuasaan?

Dalam Politik Kaum Tertindas, kekuasaan tidak ditempatkan sebagai hak mutlak penguasa. Pemimpin tetaplah manusia yang memikul tanggung jawab terhadap rakyat sekaligus tanggung jawab moral di hadapan Tuhan.

Persoalannya bukan hanya bagaimana seseorang memperoleh kekuasaan, tetapi apa yang terjadi setelah kekuasaan itu berada di tangannya.

Feri Amsari, pakar hukum tata negara yang hadir dalam diskusi tersebut, melihat pendekatan Imam al-Ghazali memiliki sisi menarik jika dibaca berdampingan dengan pemikiran ketatanegaraan modern.

“Buku ini punya pendekatan beda. Buku ini sasarannya ke personal kekuasaan. Ingat Anda berkuasa, di atas Anda ada yang lebih berkuasa, yang menentukan hidup dan mati Anda,” ujar Feri.

Dari Moral Penguasa hingga Sistem yang Membatasinya

Bagi Feri, kesadaran personal saja tidak cukup. Kekuasaan juga membutuhkan sistem yang dapat membatasinya.

Konstitusi, lembaga pengawasan, kritik publik, hingga partisipasi warga menjadi bagian penting agar kekuasaan tidak sepenuhnya bergantung pada kebaikan orang yang sedang memimpin.

Feri menggambarkannya dengan sebuah perumpamaan.

“Kalau pemerintah kita malaikat, tidak dibutuhkan pengawasan. Tidak butuh kritik, nggak butuh kita mempertanyakan kebijakan,” katanya.

“Tapi karena mereka bukanlah malaikat, ya kita harus mengawasi. Kita harus peduli. Kalau tidak peduli, hilanglah pengawasannya.”

Di sinilah Politik Kaum Tertindas dapat dibaca tidak hanya sebagai nasihat bagi penguasa. Buku ini juga membuka pertanyaan tentang posisi rakyat ketika berhadapan dengan kekuasaan.

Alwi Johan menyoroti sisi tersebut melalui prinsip amar makruf nahi mungkar.

“Kalau ada kezaliman kita nggak berteriak, ya sama aja kita membiarkan kezaliman itu,” ujar Alwi.

Ketika Nasihat Imam al-Ghazali Bertemu Panduan Melawan Tirani

Pertanyaan tentang kekuasaan itu juga menjadi pintu masuk untuk membaca buku Turos Pustaka lainnya, Panduan Melawan Tirani.

Jika Politik Kaum Tertindas banyak membawa pembaca memasuki etika kekuasaan, bagaimana penguasa seharusnya bertindak dan mengapa kekuasaan perlu memiliki kesadaran moral. Panduan Melawan Tirani menggeser sudut pandang kepada warga: apa yang dapat dilakukan masyarakat ketika kekuasaan justru bergerak ke arah yang tidak semestinya?

Keduanya bertemu pada satu persoalan yang sama: kekuasaan tidak boleh dibiarkan tanpa batas.

Yang satu mengingatkan mereka yang sedang memegang kekuasaan. Yang lain mengajak pembaca memikirkan posisi masyarakat ketika berhadapan dengan kekuasaan.

Karena itu, membaca keduanya secara berdampingan membuka dua arah pembicaraan sekaligus: bagaimana penguasa semestinya menggunakan kekuasaan dan bagaimana masyarakat mempertahankan ruang untuk mengawasinya.

Penasihat atau Penjilat?

Persoalan lain yang muncul dalam Politik Kaum Tertindas adalah orang-orang yang berada di sekitar penguasa.

Alwi menyoroti pentingnya kemampuan seorang pemimpin untuk membedakan orang yang benar-benar memberikan nasihat dengan mereka yang sekadar memberikan pujian.

“Salah satu karakter yang penting dimiliki seorang penguasa itu adalah bisa membedakan penasihat dan penjilat,” ujarnya.

Menurut Alwi, pujian kepada pemegang kekuasaan tidak selalu muncul secara tulus.

“Pemimpin itu nggak boleh terbuai dengan pujian. Karena pujian itu datangnya dari rasa takut,” katanya.

Feri juga menekankan pentingnya lingkungan di sekitar pemegang kekuasaan. Baginya, orang-orang terdekat dapat berfungsi sebagai “pagar” ketika seseorang mulai menyimpang.

“Makanya cari teman yang benar. Karena pertemanan itu adalah gambaran kita,” ujar Feri.

Pada akhirnya, diskusi Politik Kaum Tertindas membawa persoalan kekuasaan kembali kepada dua pihak sekaligus: mereka yang memegang kekuasaan dan mereka yang hidup di bawah kekuasaan.

Bagi penguasa, ada tanggung jawab untuk tidak memperlakukan jabatan sebagai sesuatu yang mutlak. Bagi masyarakat, selalu ada kebutuhan untuk menjaga ruang kritik dan pengawasan.

Seperti diingatkan Feri: “Setelah Anda berkuasa, Anda jangan lupa kekuasaan Anda sementara.”

Kekuasaan Harus Punya Batas

Pembicaraan dalam bedah Politik Kaum Tertindas menunjukkan bahwa persoalan kekuasaan tidak selesai hanya dengan berharap hadirnya pemimpin yang baik. Penguasa tetap membutuhkan batas, sementara masyarakat membutuhkan ruang untuk mengawasi, mengkritik, dan mengingatkan.

Di titik inilah Politik Kaum Tertindas dan Panduan Melawan Tirani dapat dibaca sebagai dua perspektif yang saling melengkapi. Politik Kaum Tertindas membawa pembaca melihat kekuasaan dari sisi penguasa: tentang tanggung jawab, keadilan, bahaya pujian, hingga pentingnya nasihat. Sementara Panduan Melawan Tirani membawa pembicaraan ke sisi masyarakat: bagaimana warga bersikap ketika kekuasaan mulai melampaui batas.

Pesan keduanya menjadi semakin relevan ketika kekuasaan tidak lagi sekadar dibicarakan sebagai persoalan siapa yang memimpin, tetapi juga siapa yang mengawasi mereka yang memimpin.

Feri menegaskan bahwa pengawasan tidak boleh hilang hanya karena masyarakat menaruh kepercayaan kepada seorang pemimpin.

“Kalau pemerintah kita malaikat, tidak dibutuhkan pengawasan. Tidak butuh kritik, nggak butuh kita mempertanyakan kebijakan. Tapi karena mereka bukanlah malaikat, ya kita harus mengawasi. Kita harus peduli,” ujarnya.

Alwi membawa pesan tersebut satu langkah lebih jauh. Baginya, ketika ketidakadilan terjadi, masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk tidak memilih diam.

“Kalau ada kezaliman kita nggak berteriak, ya sama aja kita membiarkan kezaliman itu,” kata Alwi.

Karena kekuasaan selalu memiliki kemungkinan untuk menyimpang, nasihat kepada penguasa dan keberanian warga untuk mengawasinya tidak seharusnya dipisahkan. Penguasa perlu diingatkan bahwa kekuasaannya terbatas; masyarakat perlu diingatkan bahwa suaranya tetap diperlukan.

Dan barangkali di situlah dua buku ini menemukan titik temunya: Politik Kaum Tertindas mengingatkan mereka yang berkuasa, sementara Panduan Melawan Tirani mengingatkan mereka yang berada di hadapan kekuasaan.

Ketika Kekuasaan Perlu Diingatkan: Membaca Politik Kaum Tertindas dan Panduan Melawan Tirani Read More »

IMG_0064-1-scaled

Bedah Buku “Panduan Melawan Tirani”, Media Wahyudi Askar Bongkar Mengapa Kekuasaan Tiran Bisa Bertahan Tanpa Kendali

YOGYAKARTA—Dosen Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) Media Wahyudi Askar membahas hubungan antara tirani, ketimpangan ekonomi, dan ketergantungan masyarakat terhadap kekuasaan dalam diskusi buku Panduan Melawan Tirani di Mojok Store, Yogyakarta, Minggu (23/8/2026). Diskusi tersebut merupakan bagian dari rangkaian Jakal Bookshop Festival 2026 yang digelar Mojok Store bekerja sama dengan Turos Pustaka, penerbit buku ini.

Sekitar 25 peserta mengikuti diskusi yang berlangsung pukul 19.45–22.00 WIB. Pembahasan berangkat dari pemikiran Abdurrahman al-Kawakibi mengenai despotisme, kemudian berkembang ke persoalan kemiskinan struktural, relasi masyarakat dengan negara, dan kondisi yang memungkinkan kekuasaan bertahan tanpa kontrol.

Tirani Tidak Hanya Berkaitan dengan Penguasa

Panduan Melawan Tirani merupakan karya Abdurrahman al-Kawakibi, pemikir asal Suriah yang hidup pada 1854–1902. Dalam buku tersebut, al-Kawakibi membahas faktor-faktor yang memungkinkan kekuasaan despotik tumbuh dan bertahan di tengah masyarakat.

Menurut al-Kawakibi, persoalan tirani tidak hanya berkaitan dengan tindakan seorang penguasa. Kondisi agama, pendidikan, pengetahuan, ekonomi, hingga kehidupan sosial masyarakat juga memiliki hubungan dengan terbentuknya kekuasaan yang sulit dikendalikan.

Dalam diskusi, Media mengaitkan pemikiran tersebut dengan kondisi masyarakat kontemporer, termasuk hubungan antara ketimpangan ekonomi dan ketergantungan masyarakat terhadap negara.

Pembahasan itu muncul setelah Lya Fahmi, seorang psikolog yang menjadi peserta diskusi, menanyakan mengapa sebagian masyarakat belum melihat kemiskinan sebagai persoalan yang juga dipengaruhi faktor struktural. Pertanyaan tersebut berangkat dari pengalamannya menghadapi klien dengan persoalan ekonomi.

Media menjelaskan bahwa kemiskinan tidak selalu dapat dilihat semata-mata sebagai akibat dari pilihan atau kemampuan individu. Struktur sosial dan ekonomi juga dapat menentukan akses seseorang terhadap sumber daya dan kesempatan.

Diskusi kemudian menyinggung berbagai bentuk perlindungan sosial yang diberikan negara serta sejauh mana kebijakan tersebut mampu menyelesaikan akar persoalan kemiskinan. Media juga membahas redistribusi kekayaan kepada kelompok miskin sebagai salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan dalam mengurangi ketimpangan.

Pembahasan tersebut memperluas pembacaan terhadap konsep kekuasaan dalam buku al-Kawakibi. Kekuasaan tidak hanya hadir melalui institusi politik dan figur pemimpin, tetapi juga dapat dilihat melalui distribusi sumber daya dan hubungan ekonomi antara masyarakat dan negara.

Masyarakat dan Legitimasi Kekuasaan

Persoalan lain yang dibahas adalah sikap masyarakat terhadap tokoh atau kekuasaan yang dinilai merusak. Dalam menjawab pertanyaan peserta, Media merujuk pada pandangan al-Kawakibi mengenai pentingnya mengambil jarak dari tokoh yang dianggap memiliki dampak buruk terhadap masyarakat.

“Kata al-Kawakibi, kalau tokoh itu dibenci masyarakat, jauhi sejauh-jauhnya. Hal yang sama juga selalu saya lakukan dan kami sampaikan ke teman-teman, kita harus menjauhi mereka yang betul-betul sudah pasti merusak negara. Kan gampang mendeteksinya,” ujar Media.

Pernyataan tersebut kemudian membawa pembahasan pada persoalan legitimasi. Kekuasaan tidak hanya ditopang oleh jabatan formal, tetapi juga oleh penerimaan masyarakat, jaringan sosial, dukungan kelompok, dan perhatian publik. Dalam konteks tersebut, pilihan masyarakat untuk memberikan atau menarik dukungan turut memengaruhi legitimasi suatu kekuasaan.

Diskusi juga menyoroti pentingnya dasar pengetahuan dalam menilai kekuasaan. Penilaian terhadap seorang tokoh atau pemerintah, sebagaimana kritik terhadap kekuasaan itu sendiri, perlu didasarkan pada informasi dan argumentasi yang dapat diuji.

Dengan cara itu, pemikiran al-Kawakibi tidak ditempatkan sebagai rumusan politik yang diterapkan secara mutlak, melainkan sebagai salah satu kerangka untuk membaca hubungan antara masyarakat dan kekuasaan.

Membaca Kembali Al-Kawakibi

Turos Pustaka menerbitkan Panduan Melawan Tirani untuk memperkenalkan kembali pemikiran al-Kawakibi kepada pembaca Indonesia sekaligus membuka ruang diskusi mengenai kekuasaan, ketimpangan, kebebasan berpikir, serta hubungan masyarakat dengan negara.

Diskusi di Mojok Store menunjukkan bahwa gagasan yang ditulis al-Kawakibi lebih dari satu abad lalu masih dapat digunakan untuk membicarakan persoalan kontemporer. Melalui forum tersebut, peserta tidak hanya membahas bagaimana kekuasaan terbentuk, tetapi juga kondisi sosial yang memungkinkan sebuah kekuasaan terus memperoleh dukungan dan bertahan.

Bedah Buku “Panduan Melawan Tirani”, Media Wahyudi Askar Bongkar Mengapa Kekuasaan Tiran Bisa Bertahan Tanpa Kendali Read More »

Muqaddimah Lite tentang Sufi Bahlul

“Bahlul,” kata kamus, artinya orang gila. Ente bahlul, maksudnya ente miring. Tapi Bahlul yang satu ini bukan sembarang gila. Ini gila bertuah. Gila bergaya. Bahkan, gila yang menyukai Tuhan. Atau setidaknya, gila yang disebut Ibnu Khaldun —yang kitab Muqaddimah-nya setebal bantal saya terjemahkan awal tahun 1980-an.

Selasa malam, 10 Juni 2025, saya ikut diskusi daring tentang kitab baru tapi lama — Syifā’ al-Sā’il ilā Tahdzīb al-Masā’il karya Ibnu Khaldun, yang diterbitkan Turos dengan judul Muqaddimah Ilmu Tasawuf. Hadir sebagai narasumber Prof. Abdul Kadir Riyadi, Ph.D., pakar tasawuf jebolan Gontor dan Deakin University, dengan suara bulat dan mantap.

Ibnu Khaldun, seperti biasa, tidak sedang berbasa-basi. Di tengah reputasinya sebagai sejarawan, sosiolog, dan ahli fikih, ia menyempatkan diri menyebut beberapa tokoh tasawuf falsafi sebagai “bahlul.” Ya, kata itu bukan monopoli Rocky Gerung, atau bahan kelakar netizen soal Menteri Bahlil Lahadalia. Ini bahlul level langit.

Menurut Ibnu Khaldun —sebagaimana tersirat dalam Syifā’ al-Sā’il —tasawuf adalah ranah serius. Ia bukan tempat bertapa di gua gelap, atau ngelantur dalam rumah sambil merangkai pemikiran tanpa dasar dan rujukan jelas. Jika ada yang demikian, beliau tak segan menyebutnya: “bahlul.”

Tapi jangan buru-buru mencemooh. Dalam khazanah Arab-Islam, “bahlul” kadang bukan makian, melainkan gelar bagi orang yang tampak gila tapi sejatinya bijak. Semacam jester suci, atau sufi berkedok linglung yang mengalami syathahat –semacam linglung ala AI — hingga bikin orang ikutan linglung.

Itulah model sufi bahlul yang dikenal sejarah. Namun, beda dengan para bahlul Instagram yang hobi berbicara di bawah pohon sambil mengutip Jalaluddin Rumi lalu memotong kewajiban salat, Ibnu Khaldun mengajukan satu tesis tegas: tasawuf harus syariat-full, bukan syariat-less.

Penerbit Turos berhasil membuat sesuatu yang janggal jadi masuk akal. Mereka merilis versi “lite” dari Muqaddimah — bukan dalam arti isi yang ringan, tapi fokus pada tema. Bukan Muqaddimah tentang siklus peradaban, pajak, keruntuhan dinasti, dan pentingnya solidaritas kesukuan (‘ashabiyyah), melainkan versi spiritualnya.

Jika Muqaddimah “asli” adalah sajian kuliah delapan semester, buku yang satu ini hanya membahas setengah semester kuliah tasawuf. Tapi bukan tasawuf sembarangan. Dalam kitab ini, Ibnu Khaldun menulis seperti hakim: tajam, hati-hati, dan tidak ragu “mengirim bid‘ah ke penjara.”

Sebagai ahli fikih Maliki yang pernah menjabat di pengadilan Mesir, ia menulis tasawuf dalam bentuk fatwa, bukan buku “How to become a sufi in 7 steps.” Kita tidak akan menemukan kumpulan shalawat, panduan wirid atau tips bertapa di gua, tapi peringatan agar tidak tersesat oleh zikir yang tak sesuai fikih.

Di sinilah istilah “bahlul” muncul dengan makna penuh. Tokoh-tokoh seperti Ibnu Arabi, Al-Hallaj, dan Suhrawardi disebut dengan nada miring. Bukan karena kurang zikir, tetapi karena terlalu berfilsafat hingga melampaui batas kejujuran spiritual dan intelektual.

Bagi Ibnu Khaldun, tasawuf falsafi itu seperti memasukkan unicorn ke masjid –menarik, surealis, tapi bisa mengacaukan rukun iman. Padahal, tasawuf itu serius. Bukan panggung Instagram. Bukan pula tempat mempertontonkan eksistensialisme dengan quotes palsu.

Mari bicara fakta. Ibnu Khaldun tidak membenci tasawuf. Ia hanya membedakan dengan tegas antara: tasawuf sunni dan tasawuf falsafi. Tasawuf sunni — seperti dirintis Al-Ghazali, Al-Junaid, dan Abdul Qadir al-Jilani — penuh adab. Syariat dulu, baru spiritualitas.

Sementara tasawuf falsafi — yang digawangi Ibnu Arabi, Al-Hallaj, dan Suhrawardi — penuh istilah yang bikin pusing kepala. Anda mungkin terkagum-kagum oleh istilah ittihad, hulul, nur muhammad, dan wahdatul wujud, padahal bisa menjerumuskan orang pada “gila beneran.”

Bagi Ibnu Khaldun, tasawuf punya struktur logis, tapi bukan sesuatu yang dilogis-logiskan. Ada tahap takwa, tazkiyah, lalu kontemplasi pendekatan diri (muraqabah). Semua harus diverifikasi oleh akal sehat dan syariat. Kalau tidak, ya jatuhnya: bahlul.

Ibnu Khaldun menolak tasawuf yang melawan hukum. Seperti sufi yang mengklaim tak wajib shalat karena merasa “menyatu dengan Tuhan” — itu bukan spiritual, tapi delusional.

Dalam diskusi itu, Prof. Abdul Kadir menyebut tasawuf falsafi ibarat ingin menembus langit dengan tangga rapuh filsafat Yunani. Kalau Al-Hallaj berkata, “Ana al-Haqq,” maka Ibnu Khaldun menjawab, “Itu syirik!” Karena kebenaran hakiki adalah milik Allah, bukan milik orang yang sedang halu spiritual.

Tasawuf versi Ibnu Khaldun mengajarkan akal untuk berteman dengan wahyu ?”bukan menjadi bos yang memecat syariat. Apalagi menggaji intuisi sebagai direktur spiritual.

Ibnu Khaldun bukan ulama anti-mistik, tapi mistik yang syariat-sentris. Katanya: “Sufi sejati adalah zuhud tapi produktif.” Kalau cuma zuhud lalu jadi beban masyarakat, itu bukan sufi — itu pemalas yang menjadikan tasawuf tempat pelarian.

Kitab Syif?’ al-S?’il alias Muqaddimah Ilmu Tasawuf ini kecil ukurannya, tapi padat substansi. Ia menjelaskan, sufisme yang benar bukan meninggalkan dunia, tapi menata jiwa di tengah dunia fana. Seperti orang berwudhu di pasar: tetap bersih meski penuh debu.

Ini bukan buku untuk pemuja kesunyian tanpa tanggung jawab, melainkan panduan spiritual bagi mereka yang masih ingat jalan pulang — ke rumah syariat.

Barangkali kini kita lebih paham. Ibnu Khaldun melabeli tokoh sekelas Ibnu Arabi sebagai “bahlul” bukan untuk mencaci, tapi sebagai peringatan. Agar kita tidak terjerumus dalam romantisme spiritual yang tidak realistis.

Ibnu Khaldun adalah pencerah. Ia mempersatukan fikih, sejarah, dan tasawuf sunni dalam satu napas. Muqaddimah versi lite-nya hanya fokus pada napas zikir –dengan oksigen syariat. Bukan tasawuf pelarian, melainkan tasawuf pelurusan.

Maka wahai para bahlul modern yang gemar memotong ayat, mengedit hadits, dan menyebar kutipan tanpa sanad — kembalilah ke jalan yang lurus. Kalau tidak, bersiaplah disebut “bahlul” dalam arti yang sesungguhnya: gila tanpa hikmah.

Dan akhirnya, sebagaimana doa para salik sejati: “Ya Allah, jadikan kami ‘bahlul’ yang Engkau cintai, bukan bahlul yang mencintai dirinya sendiri.” Amin.

Wallahu a‘lam bis shawab.

Catatan:
Tulisan ini merujuk pada kitab Syifa’ al-Sa’il ila Tahdzib al-Masa’il karya Ibnu Khaldun, terbitan Turos Pustaka 2025: Muqaddimah Ilmu Tasawuf, serta diskusi daring pada 10 Juni 2025 bersama Prof. Abdul Kadir Riyadi.

Muqaddimah Lite tentang Sufi Bahlul Read More »

KH Hasan Abdullah Sahal: Tokoh Perbukuan 2024, Pentingnya Hati Nurani dalam Membaca dan Menulis

JAKARTA — Pada Rabu (14/8/2024), Pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, dinobatkan sebagai Tokoh Perbukuan Islam 2024 oleh Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DKI Jakarta. Penobatan ini berlangsung dalam pembukaan acara Islamic Book Fair di JCC Jakarta. Ratusan peserta hadir dalam acara ini, termasuk penerbit, sponsor, pengusaha, perbankan, pengasuh pesantren, penulis, pers, dan santri.

Ketua IKAPI DKI Jakarta, Hikmat Kurnia, bersama perwakilan Kerajaan Arab Saudi, Osama Shuaibi, hadir untuk menobatkan Kiai Hasan. Osama memberikan hadiah spesial berupa kunci Ka’bah, sebuah cinderamata unik dan bernilai tinggi yang hanya milik oleh segelintir orang.

Dalam sambutannya, Hikmat Kurnia mengingatkan pesan sederhana namun mendalam dari Kiai Hasan kepada puluhan ribu alumni Gontor. “Yang penting berbuat baik, jangan manfaatkan hidup ini untuk yang tidak baik,” ujar Hikmat mengutip Kiai Hasan. Kebaikan, menurut Kiai Hasan, adalah perbuatan yang sesuai dengan aturan agama dan negara serta memberikan manfaat bagi banyak orang.

Pidato KH Hasan Sahal: Membaca dan Menulis dengan Hati Nurani

Dalam pidatonya, Kiai Hasan menekankan pentingnya membaca dan menulis dengan hati nurani. “Tulislah apa yang ada dalam dirimu, yang engkau miliki, yang engkau ketahui, tapi dengan hati nurani,” ujar lulusan Universitas Islam Madinah tersebut. Suara hati yang jernih, menurutnya, akan menghasilkan bacaan dan tulisan yang menenangkan hati, menginspirasi orang lain untuk berbuat baik, dan mengubah mereka menjadi insan yang semakin bertakwa.

Kiai Hasan juga menyebutkan bahwa prasangka baik kepada Allah adalah energi mendasar untuk menghasilkan bacaan dan tulisan berkualitas. Meski mengalami hal yang tidak sesuai harapan, seseorang harus tetap berprasangka baik kepada Allah karena di dalamnya terdapat hikmah dan pelajaran.

KH Hasan Abdullah Sahal juga menyinggung tentang pentingnya sejarah. “Setiap orang harus cerdas menyikapi sejarah, karena kita akan membangun sejarah,” ujarnya. Kiai Hasan mengingatkan bahwa memahami sejarah adalah kunci untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Hikmat Kurnia menekankan bahwa Indonesia dibangun oleh pembaca buku yang berkualitas, yang mendorong semangat kemerdekaan dan lepas dari penjajahan. “Tugas kita saat ini adalah melestarikan segala kebaikan dan warisan luhur pendahulu kita yang merupakan pembaca buku yang luar biasa hebat,” kata Hikmat.

KH Hasan Abdullah Sahal: Tokoh Perbukuan 2024, Pentingnya Hati Nurani dalam Membaca dan Menulis Read More »

Aisyah al-Ba’uniyah, Penyair, Sufi, dan Penulis Perempuan yang Produktif Sebelum Abad ke-20 M Asal Damaskus

Aisyah al-Ba’uniyah adalah sufi perempuan dalam sejarah Islam. Dia dikenal sebagai ahli fikih, mursyid tarekat, penulis, dan penyair sufistik. Satu-satunya karyanya yang telah terbit dalam bahasa Indonesia berjudul Al-Muntakhab fi Ushul ar-Rutab fi ‘Ilm at-Tashawwuf (Menjalin Ikatan Cinta Allah swt).

Guru Besar Sastra Arab Chicago University Amerika Serikat Tahera Qutbuddin mencatat, bahwa Aisyah telah menulis belasan buku sepanjang hidupnya. Termasuk penulis wanita muslim yang produktif sebelum abad ke-20.

Garis keturunan

Nama lengkapnya adalah Aisyah binti al-Qadhi Yusuf bin Ahmad bin Nashir bin Khalifah bin Faraj bin Abdullah bin Yahya bin Abbdurrahman al-Ba’uniyah. Aisyah al-Ba’uniyah merupakan syaikhah yang dikenal sebagai penulis, penyair, dan sufi Damaskus. Namanya disandarkan pada Ba’un, sebuah perkampungan di provinsi Ajlun—sebelah timur Yordania sekarang.

Keluarga al-Ba’uniyah merupakan keluarga ternama, yang banyak meIahirkan para ulama dan hakim (qadhi). Beliau memiliki anak bernama Abdul Wahab, sehingga mendapat julukan Ummu Abdil Wahab. Dan suaminya bernama Ahmad bin Muhammad bin an-Naqib al-Asyraf.

Kelahiran dan Masa Remaja

Aisyah al-Ba’uniyah dilahirkan di Damaskus pada tahun 865 H/1460 M. Ia tumbuh dan berkembang dalam lingkungan ilmu dan warak. Kakeknya, Ahmad bin Nashir (752-816 H/1350-1413 M), merupakan qadhi al-qudhat, yaitu seorang wakil kepala negara yang mengangkat hakim-hakim di daerah.

Ayahnya, Yusuf bin Ahmad (805-880 H/1402-1475 M), seorang hakim (qadhi) di Safed (صفد), Tripoli (طرابلس), Aleppo (حلب), dan Damaskus (دمشق). Kakak dan pamannya termasuk pembesar ulama dalam bidang fikih, hadis, tasawuf, sejarah, dan adab. Sehingga keadaan ini membentuk karakter kepribadian Aisyah menjadi sosok ulama wanita. Tak terkecuali anaknya, Abdul Wahab, kelak menjadi ulama yang berpengaruh.

Di usia 8 tahun yang tergolong belia, Aisyah kecil mampu menghafal al-Quran di luar kepala. Kecerdasannya sudah terlihat semenjak ia berusia dini. Kepada ayahnya, ia  belajar ilmu al-Quran, hadis, fikih, dan sastra.

Pengembaraan Ilmu

Tidak hanya belajar di lingkungan keluarganya saja, Aisyah al-Ba’uniyah turut menyerap ilmu dari ulama-ulama besar Damaskus dengan petunjuk dari ayahnya. Tercatat dia memiliki dua guru spiritual: Jamaluddin Ismail al-Hawrani dan Muhyiddin Yahya al-Umawi yang merupakan ulama sufi dari tarekat Qadiriyah. Aisyah sempat melangkahkankan kaki menuju Mekkah al-Mukarramah (yang dimuliakan), baitullah guna menunaikan rukun Islam yang kelima.

Tidak mencukupkan diri belajar di Damaskus, ibunda Abdul Wahab ini pun mengembara ke Mesir bersama anaknya pada tahun 1513 M. Di negeri ini, beliau mampu menambah dan menyerap banyak ilmu sehingga mendapat otoritas untuk berfatwa dan mengajar. Dalam riwayat lain disebutkan, tujuan beliau ke Mesir untuk menemani anaknya menuntut ilmu.

Pada tahun 1516 M, penyair sekaligus tokoh sufi wanita ini melanjutkan pengembaraan hidupnya ke Aleppo. Kemudian ulama sekaligus penulis wanita itu kembali ke Negeri asalnya, Damaskus, hingga tahun wafatnya, 1517 M.

Guru-Guru

Keluarga Aisyah sendiri berasal dari keluarga ternama, yaitu al-Ba’uniyah, yang banyak melahirkan para hakim (qadhi) dan ulama. Tidak banyak penjelasan tentang pendidikan Aisyah al-Ba’uniyyah, namun guru pertamanya adalah ayahnya sendiri yang bernama Yusuf.

Aisyah al-Ba’uniyah memiliki banyak guru yang membentuk karakter keilmuannya. Dari ayahandanya dan keluarganya, beliau mempelajari al-Quran, hadis, fikih, hingga sastra.

Selain ayahnya, ada beberapa sosok dari saudaranya yang turut membentuk keilmuan Aisyah al-Ba’uniyah, yaitu: Bahauddin Muhammad bin Yusuf al-Ba’uni (857-916 H/1434-1510 M), saudara kandungnya; serta kedua pamannya: Burhanuddin Ibrahim bin Ahmad bin Nashir (777-870 H/1375-1466 M) dan Syamsuddin Muhammad bin Ahmad al-Ba’uni.

Selain keluarganya, beliau memiliki banyak guru dari ulama ternama pada masanya. Tercatat Aisyah memiliki dua guru spiritual:  Jamaluddin Ismail al-Hawrani dan Muhyiddin Yahya al-Umawi yang merupakan ulama sufi dari tarekat Qadiriyah.

Karya-Karya

Berapa jumlah karya Aisyah al-Ba’uniyah tidak diketahui secara pasti, tetapi ada yang menyatakan berjumlah lebih dari 15 buku. Beberapa karyanya banyak yang hilang.

Namun begitu, berikut ini merupakan beberapa karya beliau yang saat ini dapat ditemukan naskahnya:

  1. الفتح المبين في مدح الأمين
  2. ديوان الباعونية
  3. درر الغائص في بحر المعجزات والخصائص
  4. فيض الفضل و جمع الشمل
  5. المورد الأهنى في المولد الأسنى
  6. المنتخب في أصول الرتب (Menjalin Ikatan Cinta Allah swt.)
  7. القول الصحيح في تخميس بردة المديح
  8. تشريف الفكر في نظم فوائد الذكر

Wafat

Pada hari senin, Aisyah al-Ba’uniyah mengembuskan nafas terakhirnya. Tepatnya pada tanggal 16 Dzulqa’dah tahun 923 H yang bertepatan pada 5 Desember 1517 M di Damaskus.

Untuk mengetahu biografi syekhah Aisyah al-Ba’uniyah lebih detail, Anda bisa merujuk pada kitab: Al-A’lam (karya Syekh Khairuddin az-Zirakli), al-Kawakib as-Sairah (karya Najmuddin al-Ghazi), Syadzaratu adz-Dzahab fi Akhbari man Dzahaba (karya Ibnu ‘Imad al-Hambali), dan lain-lain.

Salam Literasi Indonesia

Aisyah al-Ba’uniyah, Penyair, Sufi, dan Penulis Perempuan yang Produktif Sebelum Abad ke-20 M Asal Damaskus Read More »

Riwayat Hidup Syekh Abdul Qadir al-Jailani

Ulama Fikih dan Ahli Tarekat Pengarang Kitab Futuhul Ghaib

Syekh Abdul Qadir al-Jailani (1077–1166 M) adalah ulama fikih dan ahli tarekat yang sangat dihormati oleh semua kalangan umat Islam. Karya ilmiahnya sangat banyak, mulai dari ilmu fikih, tasawuf, hingga tafsir. Salah satunya adalah Kitab Futuhul Ghaib.

Selain itu, tingkat kesalehannya yang amat tinggi membuatnya sebagai panutan bagi sekian ulama, di antaranya Ibnu Katsir dan Ibnu ‘Arabi. Oleh karena itu, Syekh Abdul Qadir al-Jailani menyandang gelar Sulthanul Aulia, raja atau pemimpin para wali.

Masa Kecil

Syekh Abdul Qadir al-Jailani dilahirkan di Jailan (Jilan), Persia pada tahun 470 H. Ayahnya meninggal saat ia masih kecil, sehingga ia pun menjadi yatim. Paruh pertama hidupnya ia jalani bersama sang ibu.

Kala usianya menginjak 18 tahun, ia pergi menuntut ilmu ke Baghdad, Irak, tepatnya pada tahun 488 H. Tahun ini bertepatan dengan tahun al-Imam Abu Hamid al-Ghazali tidak lagi memberikan pengajaran di Madrasah Nizhamiyah, Baghdad dan memilih melakukan uzlah.

Garis Keturunan

Garis keturunan Syekh Abdul Qadir al-Jailani dari sisi ayahnya bersambung hingga kepada Sayidina Hasan ra. yang bergelar as-Sabth. Adapun dari sisi ibunya, perlu diketahui bahwa garis keturunan beliau bersambung hingga kepada Sayidina Husain.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani Futuhul Ghaib

Tak hanya itu, garis keturunan Syekh Abdul Qadir al-Jailani juga bersambung kepada tiga khalifah lainnya, yaitu Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khatthab dan Utsman bin Affan.

Pendidikan

Syekh Abdul Qadir memulai riwayat pendidikan sejak ia bertolak ke Baghdad tahun 488 H. Kala itu, Baghdad merupakan salah satu pusat peradaban dan ilmu pengetahuan di antara wilayah-wilayah Islam lainnya. Sejumlah tokoh kenamaan dari berbagi disiplin ilmu muncul dari sana.

Dalam Kitab Futuhul Ghaib terbitan Turos Pustaka dikisahkan, dalam pengembaraannya menuntut ilmu, Syekh Abdul Qadir mendatangi seluruh pengajian tokoh fikih dan majelis ahli hadis. Selama lebih dari 30 tahun, kesehariannya ia habiskan untuk belajar ke sejumlah majelis ilmu, di antaranya ilmu akhlak dan tasawuf.

Di tahun 521 H, Syekh Abdul Qadir menimba ilmu kepada Syekh Abu Sa’id al-Makhrami al-Hanbali di madrasahnya yang terletak di kawasan Bab al-Azajj, Baghdad. Di situ Abu Sa’id mengajar ilmu fikih mazhab Hanbali.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani Futuhul Ghaib

Syekh Abdul Qadir membantu Syekh Abu Sa’id mengajar hingga sang guru wafat. Semenjak itu, seantero negeri mengenalnya sebagai seorang ulama yang sangat luas ilmunya.

Ibnu Rajab dalam kitab Dzail Thabaqât al-Hanâbilah, menggambarkan sosok dan kapasitas keilmuan beliau demikian:

“Syekh Abdul Qadir menguasai 13 bidang disiplin ilmu. Para jamaah ada yang bertanya tentang materi tafsir di hadapan beliau. Ada yang bertanya materi hadis. Ada yang bertanya tentang mazhab, khilafiah, ushul fikih dan nahwu. Fatwa yang beliau keluarkan berlandaskan pada mazhab Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal (Hanbali). Setelah zuhur, beliau biasanya memberikan materi qira`at.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani Futuhul Ghaib

Sementara al-Imam an-Nawawi mengungkapkan, “Syekh Abdul Qadir adalah gurunya para ulama mazhab Syafi’i dan mazhab Hanbali di Baghdad. Dialah manusia paling pintar di zamannya. Tak terhitung banyaknya orang yang menjadi muridnya. Para syekh dan ulama sepakat mengagungkan, memuliakan, dan menjadikan pendapat beliau sebagai referensi. Mereka berpatokan kepada beliau dalam penentuan hukum.”

Karamah-karamah

Sebagaimana para wali Allah lainnya, Syekh Abdul Qadir al- Jailani juga memiliki berbagai karamah yang menegaskan betapa agung maqam dan sosok beliau, tidak hanya di mata makhluk, namun juga di sisi Allah. Karamah ini bahkan telah muncul sejak sebelum ibu beliau melahirkannya.

Kitab Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani meriwayatkan bahwa pada malam kelahiran Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Rasulullah beserta para sahabat, para imam, serta para wali, datang mengunjungi Abu Shalih Musa Janaki, ayah Syekh Abdul Qadir al-Jailani, dalam mimpi.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani Futuhul Ghaib

Kepadanya Rasulullah berkata, “Wahai Abu Shalih, kau akan dikarunia putra oleh Allah. Putramu itu bakal mendapat kedudukan tinggi di atas para wali, sebagaimana kedudukanku di atas para nabi. Anakmu itu juga merupakan anakku, kesayanganku, dan kesayangan Allah.”

Diriwayatkan pula, pada malam hari ketika ia dilahirkan, Syekh Abdul Qadir diliputi cahaya sehingga tidak seorang pun mampu melihatnya karena silau. Usia ibunya kala itu pun sudah cukup tua, yaitu 60 tahun. Hal ini juga sesuatu yang tidak biasa.

Karamah lainnya, dikisahkan bahwa pada bulan Ramadhan Syekh Abdul Qadir kecil menolak untuk menyusu kepada ibunya. Dia baru mau menyusu ketika waktu berbuka telah tiba. Banyak pihak memaknai hal ini sebagai tanda bahwa Syekh Abdul Qadir sudah mulai berpuasa sejak masih bayi.

Demikianlah, selain kisah-kisah di atas masih banyak lagi karamah-karamah beliau lainnya. Banyak ulama yang meriwayatkan karamah beliau dalam kitab mereka, di antaranya: beliau bisa mengubah jenis kelamin bayi perempuan menjadi laki-laki, berbuka puasa di banyak tempat dalam satu waktu yang sama, dan lain-lain. Pembaca bisa menemukan karamah-karamah lainnya dalam Kitab Futuhul Ghaib terbitan Turos Pustaka.

Karya Tulis

Syekh Abdul Qadir memiliki banyak karya tulis dalam berbagai bidang yang berbeda-beda, mulai dari Tafsir, Tauhid, hingga Tasawuf. Di antara karya-karya beliau adalah: Kitab Fathurrabbani, Kitab Sirrul Asrar, dan Kitab Futuhul Ghaib.

Anak-anak dan Istri

Allah swt. mengaruniai Syekh Abdul Qadir 12 anak yang semuanya laki-laki. Mereka adalah: Syekh Abdul Wahhab, Syekh Abdur Razzaq, Syekh Abdul ‘Aziz, Syekh Abdul Jabbar, Syekh Abdul Ghafur, Syekh Abdul Ghaniy, Syekh Shalih, Syekh Muhammad, Syekh Musa, Syekh ‘Isa, Syekh Ibrahim, dan yang terakhir Syekh Yahya. Adapun istrinya bernama Fathimah, sang pelayan Tuhan dari Bani Alawi. Semoga Allah mensucikan jiwa mereka seluruhnya.

Wafat

Syekh Abdul Qadir al-Jailani wafat setelah sebelumnya menderita sakit dalam waktu yang cukup singkat. Konon, sakit beliau ini berlangsung hanya satu hari satu malam.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani Futuhul Ghaib

Beliau wafat dalam usia 91 tahun, tepatnya pada malam Sabtu, 10 Rabiul Awwal, tahun 561 H dan bermakam kota Baghdad, Irak. Sepanjang usia, beliau menghabiskan waktunya untuk berbuat baik, mengajar dan membimbing masyarakat.

Riwayat Hidup Syekh Abdul Qadir al-Jailani Read More »

Imam Abu Hasan al-Asy’ari, Pendiri Mazhab Teologi Asy’ariyah dan Pengarang Kitab al-Luma’

Garis Keturunan

Nama lengkapnya adalah Abu al-Hasan Ali bin Isma’il bin Ishaq bin Salim bin Isma’il bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah bin Abu Musa Abdullah bin Qais al-Asy’ari, dikenal dengan Abu al-Hasan al-Asy’ari.

Beliau merupakan keturunan dari Abu Musa al-Asy’ari, salah seorang perantara dalam sengketa Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, beliau berkata,

“Aku membaca di hadapan Nabi Muhammad saw. penggalan ayat ‘Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.’ Maka, Nabi bersabda, ‘Mereka (yang dimaksud dalam penggalan ayat tersebut) adalah kaummu, wahai Abu Musa’. Dan Rasulullah memberikan isyarat dengan tangan beliau kepada Abu Musa al-Asy’ari”. (HR Al-Hakim).

Kelahiran dan Masa Remaja

Abu al-Hasan al-Asy’ari dilahirkan di Basrah pada tahun 260 H/873 M. Beliau merupakan Pendiri madzhab teologi Asy’ariyah yang lebih dikenal dengan gelar Imam Asy’ari, serta memiliki julukan Nashir ad-Din.

Ulama ahli hadis sepakat bahwa Abu al-Hasan al-Asy’ari merupakan salah satu pembesar ahli hadis, sehingga madzhabnya dilandaskan pada asas dasar yang sesuai dengan prosedur Ahli Sunah Waljamaah.

Ketika menginjak usia yang relatif muda, ayah beliau meninggal dunia. Maka, beliau belajar di bawah naungan ayah tirinya, Abu Ali al-Juba`i yang merupakan tokoh Muktazilah kala itu.

Berkenaan dengan hal ini, al-Hafizh adz-Dzahabi menyatakan, “Abu al-Hasan al-Asy’ari awalnya seorang Muktazilah mengambil ilmu dari Abu Ali al-Juba`i. Kemudian beliau lepaskan pemikiran Muktazilah, lalu menjadi pengikut sunah dan para imam ahli hadis.”

Tajuddin as-Subki menyatakan bahwa selama 40 tahun Abu al-Hasan menganut madzhab Muktazilah sebelum akhirnya Allah melapangkan dadanya, lalu membela agama Allah dengan membantah segala pemikiran yang sesat.

Ibnu ‘Asakir mengisahkan darinya (Abu al-Hasan al-Asy’ari), bahwa ia berkata “Terbenak di hatiku (Abu al-Hasan), beberapa permasalahan dalam ilmu akidah. Maka, aku pun berdiri untuk menjalankan shalat dua rakaat.

Dan aku meminta kepada Allah agar Dia memberikanku petunjuk menuju jalan yang lurus. Aku pun tertidur, tak lama kemudian aku bermimpi bertemu Rasulullah saw. dalam mimpi. Aku mengadukan beberapa permasalahan kepadanya.

Lalu Rasulullah mewasiatkan, ‘Tetapilah sunah-ku.’ Aku pun terbangun dan aku membandingkan beberapa permasalahan ilmu akidah dengan dalil yang aku temukan di dalam al-Quran dan hadis. Kemudian, aku menetapinya dan aku membuang selainnya di balik punggungku”.

Sejak saat itulah beliau berpegang pada prinsip ahli sunah waljamaah, serta menangkis segala pemikiran yang bertentangan dengan pemikiran ahli sunah. Abu al-Hasan al-Asy’ari memiliki kecerdasan dan ketajaman pemahaman yang sangat luar biasa. Demikian juga, dia dikenal dengan kanaah dan kezuhudanya.

Pengembaraan Keilmuan

Atas wasiat ayahnya, Abu al-Hasan dipasrahkan menimba ilmu sanad hadis kepada Syekh Zakaria as-Saji, seorang ulama yang pakar dalam bidang fikih dan hadis serta merupakan murid terbaik dari Imam Ahmad bin Hanbal.

Tajuddin as-Subki menyebutkan, selain kepada Syekh Zakaria as-Saji, Abu al-Hasan juga mengambil sanad dari beberapa ulama lain, seperti Abu Khalaf al-Jahmi, Abu Sahl bin Sarh, Muhammad bin Ya’qub al-Muqri’, dan Abdurrahman bin Khalaf al-Bashri.

Walaupun pada masa mudanya dihabiskan berguru kepada pemuka sekte muktazilah, justru pengalaman berdiskusi dengan mereka ini menjadi bekal untuknya kelak dalam mematahkan segala argumentasi muktazilah ketika terpanggil untuk membela Ahli Sunah Waljamaah. Ada beberapa guru beliau yang dapat ditemukan catatannya dan akan dikemukakan pada poin berikut ini.

Guru-guru

Berikut guru-guru beliau:

  •  Abdurrahman bin Khallaf adh-Dhabbi al-Bashri. Dalam tafsirnya, Abu al-Hasan meriwayatkan darinya.
  • Al-Fadhl bin al-Hubbab al-Jumahi al-Bashri, dikenal dengan sebutan Abu Khalifah al-Jumahi
  • Ibnu Suraij: Syaikhul Islam Abu al-Abbas Ahmad bin Umar bin Suraij al-Baghdadi
  • Zakaria bin Yahya bin Abdurrahman as-Saji
  • Muhammad bin Ya’qub al-Muqri`: Abu al-Abbas Muhammad bin Ya`qub bin al-Hajjaj at-Taimi al-Bashri al-Muqri`
  • Abu Ishaq al-Marwazi: Abu Ishaq Ibrahim bin Ahmad al-Marwazi
  • Sahl bin Nuh
  • Abu Ali al-Juba`i, Abu al-Hasan mempelajari pemahaman Muktazilah darinya, dan pada akhirnya beliau melawan pemahaman ini.

Murid-murid

Berdasarkan catatan dari Ibnu ‘Asakir, Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari melahirkan banyak murid yang hebat dan ternama. Di antara murid-muridnya yang terkenal adalah:

  • Abu Abdillah bin Mujahid ath-Tha`i, seorang ahli kalam yang kelak seorang hakim Abu Bakar al-Baqilani belajar ilmu kalam padanya.
  • Abu al-Hasan al-Bahili
  • Bundar bin al-Husain, yang lebih dikenal dengan Abu al-Husain asy-Syirazi ash-Shufi
  • Abu Muhammad ath-Thabari al-‘Iraqi
  • Abu Bakar al-Qaffal asy-Syasyi
  • Abu Sahl ash-Sha’luki
  • Abu Zaid al-Marwazi
  • Muhammad bin Khafif asy-Syirazi
  • Abu Bakr al-Jurjani al-Isma’ili
  • Abu al-Hasan Abdul Aziz bin Muhammad bin Ishaq ath-Thabari

Karya-karya

Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Abu Bakar bin Furak, Abu al-Hasan memiliki lebih dari 200 kitab termasuk yang berbentuk risalah. Yang sangat masyhur di antaranya ialah:

  • (مَقَالَات الْإِسْلَامِيِّيْن)
  • (تَفْسِيْرُ الْقُرْآنِ وَالرَّدّ عَلَى مَنْ خَالَفَ الْبَيَان مِنْ أَهْلِ الْإِفْكِ وَالْبُهْتَان)
  • (كِتَابٌ فِي خَلْقِ الْأَعْمَال)
  • (الْإِبَانَة عَنْ أُصُوْلِ الدِّيَانَة)
  • (اللُّمَع فِي الرَّدِّ عَلَى أَهْلِ الزَّيْغِ وَالْبِدَعِ)
  • (كِتَابٌ كَبِيْرٌ فِي صِفَاتِ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ)
  •  (الرَّدّ عَلَى الْمُجَسِّمَة وَالْحَشْوِية)
  • (إِيْضَاحُ الْبُرْهَان فِي الرَّدّ عَلَى أَهْلِ الزَّيْغِ وَالطُّغْيَان)
  • (رِسَالَة إِلَى أَهْلِ الثَّغر)
  • (رِسَالَة اسْتِحْسَان الْخَوْض فِي عِلْمِ الْكَلَام)

Wafat

Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari wafat di Baghdad pada tahun 324 H/935 M. Sebelum meninggal, beliau menceritakan tentang penyelewengan dan kesesatan kaum Muktazilah.

Selain itu, beliau mewasiatkan kepada murid-muridnya untuk tidak mudah mengafirkan ahli kiblat (kaum muslim) karena sangat hawatir akan bahaya yang ditimbulkan oleh pengafiran tersebut.

Salam Literasi Indonesia.

Imam Abu Hasan al-Asy’ari, Pendiri Mazhab Teologi Asy’ariyah dan Pengarang Kitab al-Luma’ Read More »

Kitab Hadis Arba’in an-Nawawi: Latar Belakang Penulisan dan Posisinya dalam Khazanah Keilmuan di Indonesia

Kitab Hadis Arba’in an-Nawawi merupakan kitab referensi hadis paling berpengaruh dalam penyebaran ajaran Islam ke berbagai penjuru dunia. Kata Arba’in artinya empat puluh, tapi sebenarnya terdapat 42 hadis di dalam kitab ini.

Bagi para santri di Indonesia, inilah kitab favorit untuk mulai menghafal hadits-hadits Nabi sebelum pindah ke kitab-kitab yang lebih besar. Isinya berupa hadis-hadis pilihan terkait tauhid, fiqih, tasawuf, akhlak, dll.

Penyusunnya, Imam an-Nawawi (1233-1277 M), adalah ulama besar mazhab Syafi’i yang lahir dari desa Nawa, dekat kota Damaskus. Bersama kitab Riyâdhush-Shâlihîn, Hadis Arbain Nawawi ini dianggap sebagai karya Imam Nawawi yang paling terkenal dan diakui oleh umat Islam dunia.

Imam an-Nawawi dengan terus terang menyatakan bahwa yang melatarbelakangi penulisan kitab al-Arba‘în yang penuh berkah ini adalah semata meneladani para imam dan ulama pendahulu dan para ahli hadis, yang sebenarnya masing-masing mempunyai maksud dan tujuan berbeda-beda dalam menyusun dan menghimpun hadis-hadis tersebut.

Di antara mereka ada yang secara spesifik memilih hadis-hadis tentang tauhid, ada yang memilih hadis tentang petuah dan sentuhan ruhani, ada yang bermaksud menyusun hadis yang shahîh sanadnya dan selamat dari cacat dalam prosedur periwayatannya, ada yang bertujuan menampilkan hadis-hadis dengan status ‘uluwwul isnâd, atau dengan maksud dan tujuan yang lainnya.

Imam an-Nawawi di dalam pendahuluan Kitab Hadis Arba’in menyebutkan ulama-ulama pendahulu yang menuliskan kitab-kitab yang menghimpun empat puluh hadis dengan tema-tema yang spesifik. Imam an-Nawawi menulis:

“Ulama yang pertama-tama saya ketahui menyusun hadis empat puluhan ini adalah Abdullah bin al-Mubarak, dilanjutkan oleh Muhammad bin Aslam Ath-Thusi (seorang alim rabbani), al-Hasan bin Sufyan An-Nasa’i, dan sekian banyak lagi ulama lainnya yang tak terhitung jumlahnya, baik dari kalangan terdahulu maupun yang belakangan.”

Saya telah beristikharah kepada Allah  di dalam menghimpun empat puluh hadis ini dalam rangka meneladani para imam ulama dan para huffazh Islam itu. Sebab, para ulama toh telah sepakat mengenai bolehnya mengamalkan (menggunakan) hadis dha‘îf dalam hal keutamaan-keutamaan amal (fadhâ’il al-a‘mâl).

Yang dimaksud dengan hadis dha’if ini adalah sabda Rasulullah saw. yang berbunyi:

Barangsiapa mengajarkan empat puluh hadis kepada umatku mengenai urusan agamanya, niscaya pada hari kiamat nanti Allah membangkitkannya dalam kelompok para fuqaha dan ulama.

Sekalipun demikian, sebenarnya yang menjadi sandaran Imam an-Nawawi bukanlah hadis dha‘îf di atas, akan tetapi sandaran beliau adalah sabda Nabi saw. yang disebutkan dalam hadis-hadis yang shahîh. Di antaranya adalah sabda beliau:

لِيُبَلِّغْ الشَّاهِدُ مِنْكُمْ الْغَائِبَ

Hendaklah yang hadir di antara kalian mau menyampaikan kepada yang tidak hadir.

Dan juga sabda beliau:

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا فَأَدَّاهَا كَمَا سَمِعَهَا

Semoga Allah menceriakan wajah orang yang mendengar ucapanku, kemudian ia menghafalkannya dan menyampaikannnya sebagaimana ia pernah mendengarnya.

Lalu, berkenaan dengan masalah ini, Imam an-Nawawi berinisiatif untuk menghimpun empat puluh hadis yang lebih penting dari semua yang pernah dikarang, yaitu empat puluh puluh hadis yang mencakup semua tema yang sudah dituliskan. Imam an-Nawawi menulis:

“Setiap hadis darinya merupakan kaedah (pondasi) agung di antara kaedah-kaedah agama Islam yang dinyatakan oleh para ulama sebagai poros Islam, atau sebagai separoh bagian dari ajaran Islam, atau sepertiganya, atau sebutan lainnya yang semisal dengannya.”

Kemudian, dalam kitab Arba‘în ini Imam an-Nawawi berkomitmen untuk menampilkan hadis-hadis yang shahîh saja. Sebagian besar darinya terdapat dalam kitab Shahih al-Bukhârî dan Shahih Muslim, lalu ia tampilkan di sini dengan membuang sanad-sanadnya agar lebih mudah dihafalkan dan manfaatnya lebih menyeluruh bagi para pembaca.

Di samping itu, Imam an-Nawawi juga membuat bab tersendiri pada masing-masing hadis tersebut untuk lebih memperjelas makna-makna lafal hadis yang masih samar. Imam an-Nawawi menuliskan tentag betapa pentingnya hadis-hadis yang ia kumpulkan dalam kitabnya ini. Ia menulis:

“Sudah seyogyanya bagi setiap orang yang menginginkan akhirat untuk mengetahui hadis-hadis ini, karena ia mengandung berbagai masalah penting dan dorongan (perintah) agar melaksanakan semua bentuk ketaatan. Hal itu terlihat dengan jelas bagi siapa saja yang merenungkannya.”

Ibarat sumur ilmu pengetahuan, Kitab Imam Nawawi ini telah menjadi rujukan ulama di Indonesia dalam memecahkan perbagai macam persoalan ummat. Tak sedikit yang juga menulis syarahnya sehingga menjadikan Hadis Arbain Nawawi ini makin terkenal. Sebuah kitab hadis yang inspiratif dan referensial bagi setiap muslim.

Hanya kepada Allah kita bersandar dan hanya kepada-Nya kita serahkan segalanya. Segala puji dan kenikmatan adalah milik-Nya, dan hanya Dia yang bisa memberikan bimbingan dan penjagaan.

Salam Literasi Indonesia.

Kitab Hadis Arba’in an-Nawawi: Latar Belakang Penulisan dan Posisinya dalam Khazanah Keilmuan di Indonesia Read More »

Syaikhul Islam Imam an-Nawawi, al-Hafizh dan Ulama Terkemuka Mazhab Syafi’i Pengarang Kitab Hadis Arba’in an-Nawawi

Kelahiran

Nama lengkapnya adalah Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf bin Mari al-Hizami al-Haurani asy-Syafi‘i, dengan gelar al-Imam al-Hafizh al-Auhad al-Qudwah, Syaikhul Islam, Alamul Auliya`, seorang ulama yang mengarang sekian banyak kitab.

Beliau lahir pada bulan Muharram tahun 631 H di desa Nawa, Suriah. Datang ke Damaskus pada tahun 649 H, kemudian tinggal di Rawahiah untuk belajar.

Beliau berhasil menghafal kitab at-Tanbîh hanya dalam waktu empat bulan setengah, kemudian menghapal di luar kepala seperempat kitab al-Muhadzdzab di hadapan guru beliau, Ishaq bin Ahmad, pada sisa bulan-bulan berikutnya.

Selanjutnya beliau menunaikan ibadah haji bersama ayahnya, dan kemudian tinggal di Madinah selama sebulan. Ketika pulang, beliau menderita sakit dalam perjalanan.

Abu al-Hasan bin al-Atthar menyebutkan, Syekh Muhyiddin setiap harinya membacakan 12  materi pelajaran di hadapan para guru beliau, baik dalam bentuk syarah (penjelasan) atau tashhih (koreksian).

Imam an-Nawawi pernah bercerita, “Aku selalu memberikan catatan atas semua yang berkaitan dengan pelajaran yang aku kaji, berkenaan dengan penjelasan mengenai hal-hal yang muyskil (sulit; kompleks), memperjelas ungkapan, dan mengalisis aspek kebahasaan. Allah memberikan keberkahan terhadap waktu yang aku miliki.”

Ia juga pernah mempelajari kitab al-Qanun karangan Ibnu Sina. Ia berkata, “Aku terpikirkan untuk menyibukkan diri belajar ilmu kedokteran. Aku membeli Kitâb al-Qânûn. Tetapi ketika aku membacanya, hatiku pun menjadi gelap. Selama herhari-hari aku tidak bisa beraktivitas apa-apa sehingga kuhentikan kajian kitab ini dan akhirnya aku pun menjualnya. Sesudah itu hatiku bersinar kembali.”

Kepribadian Beliau

Ibnu al-‘Atthar adalah seseorang yang menulis sejarah hidup Syaikhul Imam an-Nawawi dalam enam buku. Ia pernah berkata mengenai kepribadian dan sifat Imam an-Nawawi yang menonjol.

Ibnu al-‘Atthar berkata, “Beliau senantiasa melakukan mujahadah, berjihad melawan nafsu, selalu bersikap wara’, murâqabah (merasa selalu diawasi oleh Allah) serta membersihkan jiwa dari berbagai noda dan membuangnya jauh-jauh. Beliau adalah seorang hafiz dalam bidang hadis dengan segala disiplin ilmu yang berkaitan dengannya, para perawi (rijâl) hadis serta mengenai shahîh tidaknya suatu hadis. Beliau adalah seorang pakar dalam mazhab Syafi‘i.”

Imam an-Nawawi pernah diprotes oleh Ar-Rasyid bin al-Mu‘allim karena gaya hidupnya yang terlalu sederhana, baik dalam urusan makan, pakaian, dan segala keadaan yang dialaminya. Ar-Rasyid bin al-Mu‘allim khawatir gurunya terserang suatu penyakit.

Terkait hal itu, Imam an-Nawawi berkata, “Sesungguhnya si fulan selalu berpuasa dan beribadah kepada Allah sehingga kulitnya menjadi hijau. Ia menolak untuk makan buah-buahan dan ketimun. Alasannya, ‘Aku khawatir jika jasadku menjadi basah sehingga mengantuk dan tidur.’ Ia sudah biasa makan sekali sehari semalam dan minum sekali ketika sahur.’”

Beliau biasa menentang para raja dan orang-orang zalim, mengirim surat kepada mereka, dan menakut-nakuti mereka akan siksa Allah swt. Beberapa kali Raja azh-Zhahir membawanya ke meja peradilan. Dikisahkan bahwa azh-Zhahir berkata mengenai beliau, ‘Aku takut kepadanya.

Guru-guru Beliau

Syaikhul Islam Imam an-Nawawi belajar dari ar-Ridha bin al-Burhan, Syaikhusy Syuyukh (Gurunya Para Guru) Abdul Aziz bin Muhammad al-Anshari, Zainuddin bin Abdud-Da’im, Imaduddin Abdul Karim bin al-Hasratani, Zainuddin bin Khalid bin Yusuf, Taqiyuddin bin Abi al-Yasar, Jamaluddin bin ash-Shairafi, dan Syamsuddin bin Abi Umar serta ulama lainnya sekaliber mereka.

Beliau juga berguru (kepada para guru) al-Kutub as-Sittah, al-Musnad, al-Muwaththa`, Syarh as-Sunnah karangan al-Baghawi, Sunan ad-Dâruquthnî dan masih banyak lagi kitab yang lainnya. Beliau juga belajar kitab al-Kamâl karangan al-Hafizh Abdul Ghani kepada az-Zain Khalid, dan mensyarah hadis-hadis dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim di hadapan al-Muhaddits (Pakar Hadis) Abu Ishaq Ibrahim bin Isa al-Muradi.

Beliau belajar ilmu ushul kepada al-Qadhi At-Tiflisi serta berlajar fikih kepada al-Kamal Ishaq al-Maghribi, Syamsuddin Abdurrahman bin Nuh, Izzuddin Umar bin Sa‘d al-Irbili, al-Kamal Salar al-Irbili, serta belajar nahwu kepada Syekh Ahmad al-Mishri dan lainnya. Beliau juga belajar kepada Ibnu Malik salah satu kitab yang dikarangnya.

Murid-murid Beliau

Selama masa hidupnya, Imam an-Nawawi Beliau menyibukkan diri dengan mengarang dan menyebarkan ilmu, beribadah, wirid, puasa, zikir, tabah di dalam menghadapi kehidupan yang keras dalam hal sandang maupun pangan. Pakaiannya terbuat dari kain mori, sedangkan serbannya berupa kain kasar kecil.

Dari beliau lahir sejumlah ulama terkenal, di antaranya al-Khathib Shadruddin Sulaiman al-Ja‘fari, Syihabuddin Ahmad bin Ja‘wan, Syihabuddin al-Arbadi dan Ala`uddin bin al-‘Atthar.  Sedangkan ulama yang berguru hadis kepada beliau adalah Ibnu Abi al-Fath, al-Mizzi dan Ibnu al-‘Atthar.

Ibnu al-‘Atthar berkata, “Syekh kami (Imam an-Nawawi) rahimahullâh menceritakan kepada kami bahwa beliau tidak pernah menyia-nyiakan waktu sedikit pun, baik di waktu malam maupun siang, kecuali untuk kesibukan (mengajarkan ilmu), bahkan di jalanan sekalipun. Beliau menekuni hal ini selama enam tahun, sampai akhirnya mulai mengarang, memberi ilmu, nasihat serta menjelaskan perkara yang hak.”

Karya-karya Beliau

Di antara kitab-kitab karangan Imam an-Nawawi adalah Syarh Shahîh Muslim, Riyâdhush-Shâlihîn, al-Adzkâr, al-Arba‘în, al-Irsyâd (dalam bidang ilmu hadis).

Beliau juga menulis at-Taqrîb (ringkasan), Kitâb al-Mubhamât, Tahrîr al-Alfâzh lit-Tanbîh, al-‘Umdah fî Tashhîh at-Tanbîh, al-Îdhâh (mengenai manasik dalam satu jilid, di samping tiga kitab manasik lainnya).

Kitab-kitab beliau yang lain adalah at-Tibyân fî Âdâb Hamalat al-Qur‘ân, al-Fatâwâ (kumpulan fatwa beliau), ar-Rawdhah (empat kitab tebal), Syarh al-Muhadzdzab (empat jilid, sampai bab al-musharrâh), syarah terhadap beberapa bagian dari Shahih al-Bukhârî dan juga dari al-Wasîth.

Imam an-Nawawi juga menulis beberapa masalah hukum, sekian banyak kitab mengenai nama-nama dan bahasa, beberapa tulisan mengenai tingkatan para ahli fikih, serta tahqiq (verifikasi) mengenai masalah fikih sampai bab shalatnya musafir.

Wafat

Beliau mengunjungi Baitul Maqdis dan kembali ke Nawa. Beliau sakit di sisi ayahnya sampai kemudian meninggal pada tanggal 24 Rajab tahun 676 H. Semoga Allah swt. merahmati Syaikhul Islam Imam an-Nawawi. Amin.

Salam Literasi Indonesia.

Syaikhul Islam Imam an-Nawawi, al-Hafizh dan Ulama Terkemuka Mazhab Syafi’i Pengarang Kitab Hadis Arba’in an-Nawawi Read More »