Turos Pustaka

Sebelum Tiba di Madinah, Saya Menangis Tanpa Tahu Sebabnya

Oleh Muhammad Imdad | Disunting oleh Redaksi Turos Pustaka

Saya tidak tahu mengapa air mata itu tiba-tiba jatuh. Bus yang saya tumpangi bahkan belum sampai di Madinah ketika seorang petugas berdiri di depan dan mengajak seluruh jemaah melantunkan selawat. Suara pujian kepada Rasulullah bersahutan dengan deru mesin kendaraan yang melintasi hamparan bebatuan. Saya mencoba mengikuti lantunan itu, tetapi lidah mendadak kelu. Saya memalingkan wajah ke arah jendela, sementara air mata mengalir begitu saja di pipi. Entah apa penyebabnya. Saya hanya tahu bahwa semakin dekat perjalanan kami menuju Kota Nabi, semakin sulit rasanya menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dada.

Peristiwa itu terjadi pada 2019, ketika saya mendapat kesempatan menunaikan ibadah umrah untuk pertama kalinya. Sebagaimana jemaah pada umumnya, saya telah mempersiapkan berbagai keperluan, mulai dari mengikuti manasik, menjaga kesehatan, membaca literatur tentang Makkah dan Madinah, hingga menabung rindu kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diam-diam, saya juga menyusun daftar doa yang hendak dipanjatkan di depan Multazam, sekaligus berbagai keinginan yang ingin saya sampaikan ketika berziarah kepada Rasulullah. Saya membayangkan betapa istimewanya dapat menghaturkan salam kepada sosok yang selama ini hanya saya kenal melalui riwayat, kisah, dan selawat yang berulang kali dilantunkan. Saya begitu yakin perjalanan ini akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Hakulyakin.

Beruntung, rombongan kami dijadwalkan mengunjungi Madinah terlebih dahulu sebelum menuju Makkah. Kami akan berziarah kepada Rasulullah sebelum mengunjungi Baitullah. Dalam hati saya berpikir, begitulah semestinya urutan kunjungan yang proper: sowan kepada Sang Nabi sebelum bertamu ke rumah Tuhan. Namun, di balik segala persiapan dan harapan tersebut, saya tidak pernah menyangka bahwa perjalanan ini justru akan mengubah cara saya memahami sesuatu yang telah melekat pada diri saya sejak lahir, yakni nama saya sendiri.

Di Hadapan Makam Sang Nabi

Sesampainya di Madinah, saya berkesempatan memasuki lorong Bab al-Salam. Bersama ribuan peziarah lainnya, saya berjalan perlahan menuju al-Buq’ah al-Syarifah, tempat mulia yang menjadi makam Rasulullah, berdampingan dengan dua sahabat tercintanya, Abu Bakar al-Shiddiq dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhuma. Kami bergerak dengan langkah-langkah kecil, seperti koloni semut yang berbaris menuju tempat penyimpanan gula. Saya tidak tahu pasti berapa meter jarak antara pintu masuk dan makam Rasulullah. Tidak terlalu jauh, tetapi saat itu terasa begitu panjang. Dada saya berdegup semakin kencang, diselimuti perasaan gugup yang sulit dijelaskan. Barangkali begitulah perasaan seseorang ketika hendak bertemu sosok yang begitu dicintainya.

Semakin dekat dengan makam Rasulullah, semakin tampak orang-orang di depan saya menghadapkan tubuh ke arah kiri. Sebagian melambaikan tangan, sebagian melantunkan doa dan selawat, sementara yang lain menangis tersedu. Saya ikut menoleh. Di hadapan saya berdiri seorang askar bertubuh tegap yang tampak sigap mengatur para peziarah. Dari sela-sela tubuhnya, saya mencuri pandang ke arah bangunan dengan terali bermotif emas. Di sana terdapat penanda berwarna hijau yang menunjukkan posisi makam Rasulullah. Saya berusaha melempar pandangan sejauh mungkin, seolah sepasang mata ini sedang berusaha menggapai kerinduan yang selama ini hanya mampu saya simpan dalam hati.

Di hadapan makam Sang Nabi, mulut saya tidak henti-hentinya melantunkan selawat dan salam. Hingga tiba-tiba terlintas sebuah hadis yang menyebutkan bahwa setiap kali seseorang mengucapkan salam kepada Rasulullah, Allah mengembalikan ruh beliau sehingga dapat membalas salam tersebut (HR. Abu Dawud No. 2041). Pikiran saya pun mulai mengembara. Bukankah tidak ada waktu yang berlalu di dunia ini tanpa seseorang mengucapkan salam kepada Rasulullah? Mungkin saat itu ada seorang Muslim di pedalaman Afrika yang sedang melantunkan selawat. Mungkin pula seseorang di Eropa tengah mengirimkan salam. Atau barangkali, di Indonesia, ribuan manusia sedang menyebut nama beliau dengan penuh cinta. Lantas, bagaimana Rasulullah membalas semua salam itu?

Saya tertegun oleh pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepala. Sampai kemudian terlintas sebuah pikiran: mengapa saya tidak mengucapkan salam sendiri, dengan menghadirkan sepenuh hati kerinduan kepada beliau? Saya kembali melirik ke arah makam Rasulullah, lalu memejamkan mata sembari berucap lirih, “Ash-shalatu was-salamu ‘alaika ya Rasulallah. Shallallahu ‘ala Muhammad.”

Muhammad. Itulah namanya. Pada saat itulah saya menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak pernah benar-benar saya pahami: ternyata manusia membutuhkan sebuah nama untuk mengalamatkan cinta.

Sebuah Nama untuk Mengalamatkan Cinta

“Apalah arti sebuah nama?” Pertanyaan itu sebelumnya sering mengusik pikiran saya. Barangkali nama memang tidak lebih penting daripada sosok yang dinamai. Akan tetapi, jika nama tidak begitu berarti, mengapa manusia bersungguh-sungguh memilih nama bagi orang-orang dan hal-hal yang dicintainya? Mengapa kita memberi nama kepada anak, rumah, hewan peliharaan, bahkan kampung halaman? Mengapa pula Allah mengajarkan kepada Nabi Adam seluruh nama-nama sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 31? Apakah nama hanya persoalan tanda dan penanda sebagaimana dibicarakan dalam semiotika, atau sesungguhnya ada makna yang lebih dalam di baliknya?

Pertanyaan-pertanyaan itu menemukan jawabannya ketika saya berdiri di hadapan makam Rasulullah. Di sana, ribuan manusia dibuat terisak oleh kerinduan kepada sosok yang namanya mereka sebut berulang kali. Muhammad adalah nama yang telah melintasi berabad-abad sejarah, menjangkau berbagai bangsa dan bahasa, serta tetap hidup dalam doa dan ingatan jutaan manusia. Betapa banyak orang tua yang meminjam nama tersebut untuk disematkan kepada anak dan keturunan mereka sebagai ungkapan cinta kepada Rasulullah. Termasuk orang tua saya, yang memberikan nama Muhammad kepada saya sejak lahir.

Dalam khazanah keilmuan Islam dikenal ungkapan al-ismu ‘ain al-musamma, yang menempatkan nama dalam hubungan erat dengan hakikat sesuatu yang dinamai. Nama bukan sekadar rangkaian huruf, melainkan dapat menjadi identitas, cermin, sekaligus jalan bagi seseorang untuk mengenal sosok di baliknya. Orang Arab juga mengenal ungkapan katsrah al-asma’ tadullu ‘ala syaraf al-musamma, bahwa banyaknya nama menunjukkan kemuliaan sesuatu yang dinamai. Tidak mengherankan apabila Rasulullah memiliki begitu banyak nama dan sebutan indah yang menggambarkan keagungan pribadi beliau.

Imam al-Suyuthi dalam al-Bahjah al-Bahiyyah fi al-Asma’ al-Nabawiyyah menghimpun 99 nama Rasulullah. Dalam al-Mustawfa fi Asma’ al-Musthafa karya Ibn Dihyah, sebagaimana dikutip al-Halabi, disebutkan lebih dari 300 nama. Sementara Ibn al-Arabi al-Maliki menyebutkan jumlah yang lebih banyak lagi. Perbedaan jumlah tersebut memperlihatkan luasnya tradisi keilmuan Islam dalam menghimpun nama, sifat, dan gelar kemuliaan Rasulullah. Setiap sebutan menjadi cara untuk mengenang dan mengagungkan sosok yang begitu dicintai umatnya.

Kecintaan kepada Rasulullah juga tidak berhenti pada penyebutan nama. Selama berabad-abad, umat Islam memelihara ingatan tentang beliau melalui kisah-kisah kelahiran, perjalanan hidup, akhlak, dan kemuliaannya. Salah satu karya yang memiliki tempat dalam tradisi tersebut adalah Maulid al-Barzanji, sebuah karya yang menghadirkan kisah dan pujian kepada Rasulullah melalui bahasa yang sarat penghormatan. Tradisi pembacaan Barzanji menjadi salah satu cara umat Islam mengenang pribadi Nabi, sementara Syarah Barzanji membuka ruang bagi pembaca untuk memahami lebih dalam kisah, ungkapan, dan makna yang terkandung di dalamnya.

Melalui kisah-kisah semacam itulah kecintaan kepada Rasulullah terus diwariskan dari generasi ke generasi. Orang-orang yang tidak pernah menyaksikan wajah beliau tetap dapat merasakan kedekatan melalui pengetahuan, penghayatan, dan kerinduan. Saya sendiri menyaksikan bagaimana ribuan manusia yang hidup berabad-abad setelah wafatnya Rasulullah masih menangis ketika menyebut namanya. Sesuatu yang dahulu hanya saya pahami sebagai ungkapan kecintaan, kini hadir sebagai pengalaman yang begitu nyata.

Nama Muhammad: Antara Kebanggaan dan Amanah

Pada awalnya, menyandang nama Muhammad bagi saya adalah kebanggaan sekaligus beban. Saya bangga karena nama saya serupa dengan nama Sang Nabi, tetapi pada saat yang sama menyadari bahwa nama tersebut membawa amanah yang tidak ringan. Bagaimana mungkin saya menyandang nama manusia paling terpuji, sementara perilaku saya sendiri masih begitu jauh dari keteladanan beliau? Saya kira, harapan untuk menjadi pribadi yang baik dan berakhlak mulia jugalah yang mendorong orang tua saya memberikan nama tersebut. Sayangnya, jika harus menyandingkan perilaku saya dengan akhlak Rasulullah, kenyataannya masih jauh panggang dari api.

Di tengah kesadaran akan keterbatasan diri itu, saya menemukan secercah optimisme ketika membaca penggalan syair Imam al-Bushiri dalam Qasidah Burdah. Penyair yang juga memiliki nama Muhammad itu menuliskan sebuah bait yang terasa begitu dekat dengan keadaan saya:

Fa inna li dzimmatan minhu bi tasmiyati Muhammadan wa huwa awfa al-khalqi bi al-dzimami.

“Aku memiliki jaminan melalui namaku, Muhammad, yang sama dengan nama Sang Nabi. Sementara beliau adalah sosok yang paling menepati janji.”

Bait tersebut menyimpan pengharapan yang mendalam. Al-Bushiri melihat kesamaan nama dengan Rasulullah sebagai sesuatu yang menghubungkannya dengan sosok yang begitu dicintai. Melalui Qasidah Burdah, kerinduan, pujian, penyesalan, dan pengharapan dituangkan dalam syair yang terus dibaca serta direnungkan hingga hari ini. Kedalaman makna tersebut dapat ditelusuri melalui Syarah Burdah, yang menguraikan lapisan makna di balik bait-bait al-Bushiri dan memperlihatkan bagaimana kecintaan kepada Rasulullah menemukan ungkapannya dalam tradisi sastra Islam.

Sebagai seseorang yang juga menyandang nama Muhammad, saya merasa menemukan harapan ketika membaca bait itu. Bukan karena kesamaan nama dengan Rasulullah dapat menggantikan kewajiban untuk meneladani beliau, melainkan karena nama tersebut mengingatkan saya akan sosok yang patut dicintai sekaligus diikuti. Saya menyadari bahwa jarak antara diri ini dan akhlak Rasulullah masih teramat jauh. Namun, setidaknya saya memiliki sebuah nama yang terus mengingatkan ke arah mana seharusnya kehidupan saya ditujukan.

Muhammad Adalah Cinta

Kini saya memahami bahwa nama tidak selalu berhenti sebagai identitas. Ada nama yang mengandung harapan orang tua, ada yang menyimpan kenangan, dan ada pula yang menjadi tempat manusia mengalamatkan kerinduan. Nama Muhammad, bagi saya, mengandung semuanya. Ia menjadi kebanggaan, amanah, pengingat, sekaligus penghubung dengan sosok yang selama ini saya cintai tanpa pernah berjumpa secara langsung.

Jika pertanyaan “Apalah arti sebuah nama?” diajukan kepada Imam al-Bushiri, barangkali beliau akan menjawabnya melalui pengharapan akan keselamatan di akhirat. Sebagai salah seorang yang juga bernama Muhammad, saya menaruh harapan serupa. Semoga nama yang saya sandang menjadi pengingat untuk terus memperbaiki diri dan meneladani Rasulullah. Semoga pula, pada saatnya nanti, saya memperoleh kesempatan berkumpul bersama sosok mulia yang namanya saya pinjam sepanjang hidup.

Perjalanan ke Madinah itu mengajarkan kepada saya sesuatu yang tidak pernah benar-benar saya pahami sebelumnya. Sebuah nama ternyata dapat menyimpan cinta yang melampaui waktu, jarak, bahkan perjumpaan. Maka, jika hari ini seseorang kembali bertanya, “Apalah arti sebuah nama?”, saya tidak perlu berpikir terlalu lama untuk menjawabnya. Bagi saya, nama itu sangat berarti. Sebab Muhammad bukan sekadar nama. Muhammad adalah cinta.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sebelum Tiba di Madinah, Saya Menangis Tanpa Tahu Sebabnya Read More »

Ketika Kekuasaan Perlu Diingatkan: Membaca Politik Kaum Tertindas dan Panduan Melawan Tirani

BEKASI — Kekuasaan tidak hanya membutuhkan pemimpin yang baik. Ia juga membutuhkan batas, pengawasan, dan masyarakat yang berani bersuara ketika penguasa mulai menyimpang.

Gagasan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam peluncuran dan bedah buku Politik Kaum Tertindas: Bagaimana Islam Membongkar Keculasan Penguasa dan Mendorong Umat untuk Bersuara, yang digelar Turos Pustaka bersama IBP Library di Djon Books & Coffee, Bekasi, Sabtu (10/10/2026).

Buku terjemahan Nashihah al-Muluk karya Imam al-Ghazali ini membawa pembaca pada persoalan yang tetap relevan berabad-abad setelah teksnya ditulis: bagaimana seharusnya seorang penguasa memperlakukan kekuasaan?

Dalam Politik Kaum Tertindas, kekuasaan tidak ditempatkan sebagai hak mutlak penguasa. Pemimpin tetaplah manusia yang memikul tanggung jawab terhadap rakyat sekaligus tanggung jawab moral di hadapan Tuhan.

Persoalannya bukan hanya bagaimana seseorang memperoleh kekuasaan, tetapi apa yang terjadi setelah kekuasaan itu berada di tangannya.

Feri Amsari, pakar hukum tata negara yang hadir dalam diskusi tersebut, melihat pendekatan Imam al-Ghazali memiliki sisi menarik jika dibaca berdampingan dengan pemikiran ketatanegaraan modern.

“Buku ini punya pendekatan beda. Buku ini sasarannya ke personal kekuasaan. Ingat Anda berkuasa, di atas Anda ada yang lebih berkuasa, yang menentukan hidup dan mati Anda,” ujar Feri.

Dari Moral Penguasa hingga Sistem yang Membatasinya

Bagi Feri, kesadaran personal saja tidak cukup. Kekuasaan juga membutuhkan sistem yang dapat membatasinya.

Konstitusi, lembaga pengawasan, kritik publik, hingga partisipasi warga menjadi bagian penting agar kekuasaan tidak sepenuhnya bergantung pada kebaikan orang yang sedang memimpin.

Feri menggambarkannya dengan sebuah perumpamaan.

“Kalau pemerintah kita malaikat, tidak dibutuhkan pengawasan. Tidak butuh kritik, nggak butuh kita mempertanyakan kebijakan,” katanya.

“Tapi karena mereka bukanlah malaikat, ya kita harus mengawasi. Kita harus peduli. Kalau tidak peduli, hilanglah pengawasannya.”

Di sinilah Politik Kaum Tertindas dapat dibaca tidak hanya sebagai nasihat bagi penguasa. Buku ini juga membuka pertanyaan tentang posisi rakyat ketika berhadapan dengan kekuasaan.

Alwi Johan menyoroti sisi tersebut melalui prinsip amar makruf nahi mungkar.

“Kalau ada kezaliman kita nggak berteriak, ya sama aja kita membiarkan kezaliman itu,” ujar Alwi.

Ketika Nasihat Imam al-Ghazali Bertemu Panduan Melawan Tirani

Pertanyaan tentang kekuasaan itu juga menjadi pintu masuk untuk membaca buku Turos Pustaka lainnya, Panduan Melawan Tirani.

Jika Politik Kaum Tertindas banyak membawa pembaca memasuki etika kekuasaan, bagaimana penguasa seharusnya bertindak dan mengapa kekuasaan perlu memiliki kesadaran moral. Panduan Melawan Tirani menggeser sudut pandang kepada warga: apa yang dapat dilakukan masyarakat ketika kekuasaan justru bergerak ke arah yang tidak semestinya?

Keduanya bertemu pada satu persoalan yang sama: kekuasaan tidak boleh dibiarkan tanpa batas.

Yang satu mengingatkan mereka yang sedang memegang kekuasaan. Yang lain mengajak pembaca memikirkan posisi masyarakat ketika berhadapan dengan kekuasaan.

Karena itu, membaca keduanya secara berdampingan membuka dua arah pembicaraan sekaligus: bagaimana penguasa semestinya menggunakan kekuasaan dan bagaimana masyarakat mempertahankan ruang untuk mengawasinya.

Penasihat atau Penjilat?

Persoalan lain yang muncul dalam Politik Kaum Tertindas adalah orang-orang yang berada di sekitar penguasa.

Alwi menyoroti pentingnya kemampuan seorang pemimpin untuk membedakan orang yang benar-benar memberikan nasihat dengan mereka yang sekadar memberikan pujian.

“Salah satu karakter yang penting dimiliki seorang penguasa itu adalah bisa membedakan penasihat dan penjilat,” ujarnya.

Menurut Alwi, pujian kepada pemegang kekuasaan tidak selalu muncul secara tulus.

“Pemimpin itu nggak boleh terbuai dengan pujian. Karena pujian itu datangnya dari rasa takut,” katanya.

Feri juga menekankan pentingnya lingkungan di sekitar pemegang kekuasaan. Baginya, orang-orang terdekat dapat berfungsi sebagai “pagar” ketika seseorang mulai menyimpang.

“Makanya cari teman yang benar. Karena pertemanan itu adalah gambaran kita,” ujar Feri.

Pada akhirnya, diskusi Politik Kaum Tertindas membawa persoalan kekuasaan kembali kepada dua pihak sekaligus: mereka yang memegang kekuasaan dan mereka yang hidup di bawah kekuasaan.

Bagi penguasa, ada tanggung jawab untuk tidak memperlakukan jabatan sebagai sesuatu yang mutlak. Bagi masyarakat, selalu ada kebutuhan untuk menjaga ruang kritik dan pengawasan.

Seperti diingatkan Feri: “Setelah Anda berkuasa, Anda jangan lupa kekuasaan Anda sementara.”

Kekuasaan Harus Punya Batas

Pembicaraan dalam bedah Politik Kaum Tertindas menunjukkan bahwa persoalan kekuasaan tidak selesai hanya dengan berharap hadirnya pemimpin yang baik. Penguasa tetap membutuhkan batas, sementara masyarakat membutuhkan ruang untuk mengawasi, mengkritik, dan mengingatkan.

Di titik inilah Politik Kaum Tertindas dan Panduan Melawan Tirani dapat dibaca sebagai dua perspektif yang saling melengkapi. Politik Kaum Tertindas membawa pembaca melihat kekuasaan dari sisi penguasa: tentang tanggung jawab, keadilan, bahaya pujian, hingga pentingnya nasihat. Sementara Panduan Melawan Tirani membawa pembicaraan ke sisi masyarakat: bagaimana warga bersikap ketika kekuasaan mulai melampaui batas.

Pesan keduanya menjadi semakin relevan ketika kekuasaan tidak lagi sekadar dibicarakan sebagai persoalan siapa yang memimpin, tetapi juga siapa yang mengawasi mereka yang memimpin.

Feri menegaskan bahwa pengawasan tidak boleh hilang hanya karena masyarakat menaruh kepercayaan kepada seorang pemimpin.

“Kalau pemerintah kita malaikat, tidak dibutuhkan pengawasan. Tidak butuh kritik, nggak butuh kita mempertanyakan kebijakan. Tapi karena mereka bukanlah malaikat, ya kita harus mengawasi. Kita harus peduli,” ujarnya.

Alwi membawa pesan tersebut satu langkah lebih jauh. Baginya, ketika ketidakadilan terjadi, masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk tidak memilih diam.

“Kalau ada kezaliman kita nggak berteriak, ya sama aja kita membiarkan kezaliman itu,” kata Alwi.

Karena kekuasaan selalu memiliki kemungkinan untuk menyimpang, nasihat kepada penguasa dan keberanian warga untuk mengawasinya tidak seharusnya dipisahkan. Penguasa perlu diingatkan bahwa kekuasaannya terbatas; masyarakat perlu diingatkan bahwa suaranya tetap diperlukan.

Dan barangkali di situlah dua buku ini menemukan titik temunya: Politik Kaum Tertindas mengingatkan mereka yang berkuasa, sementara Panduan Melawan Tirani mengingatkan mereka yang berada di hadapan kekuasaan.

Ketika Kekuasaan Perlu Diingatkan: Membaca Politik Kaum Tertindas dan Panduan Melawan Tirani Read More »

IMG_0064-1-scaled

Bedah Buku “Panduan Melawan Tirani”, Media Wahyudi Askar Bongkar Mengapa Kekuasaan Tiran Bisa Bertahan Tanpa Kendali

YOGYAKARTA—Dosen Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) Media Wahyudi Askar membahas hubungan antara tirani, ketimpangan ekonomi, dan ketergantungan masyarakat terhadap kekuasaan dalam diskusi buku Panduan Melawan Tirani di Mojok Store, Yogyakarta, Minggu (23/8/2026). Diskusi tersebut merupakan bagian dari rangkaian Jakal Bookshop Festival 2026 yang digelar Mojok Store bekerja sama dengan Turos Pustaka, penerbit buku ini.

Sekitar 25 peserta mengikuti diskusi yang berlangsung pukul 19.45–22.00 WIB. Pembahasan berangkat dari pemikiran Abdurrahman al-Kawakibi mengenai despotisme, kemudian berkembang ke persoalan kemiskinan struktural, relasi masyarakat dengan negara, dan kondisi yang memungkinkan kekuasaan bertahan tanpa kontrol.

Tirani Tidak Hanya Berkaitan dengan Penguasa

Panduan Melawan Tirani merupakan karya Abdurrahman al-Kawakibi, pemikir asal Suriah yang hidup pada 1854–1902. Dalam buku tersebut, al-Kawakibi membahas faktor-faktor yang memungkinkan kekuasaan despotik tumbuh dan bertahan di tengah masyarakat.

Menurut al-Kawakibi, persoalan tirani tidak hanya berkaitan dengan tindakan seorang penguasa. Kondisi agama, pendidikan, pengetahuan, ekonomi, hingga kehidupan sosial masyarakat juga memiliki hubungan dengan terbentuknya kekuasaan yang sulit dikendalikan.

Dalam diskusi, Media mengaitkan pemikiran tersebut dengan kondisi masyarakat kontemporer, termasuk hubungan antara ketimpangan ekonomi dan ketergantungan masyarakat terhadap negara.

Pembahasan itu muncul setelah Lya Fahmi, seorang psikolog yang menjadi peserta diskusi, menanyakan mengapa sebagian masyarakat belum melihat kemiskinan sebagai persoalan yang juga dipengaruhi faktor struktural. Pertanyaan tersebut berangkat dari pengalamannya menghadapi klien dengan persoalan ekonomi.

Media menjelaskan bahwa kemiskinan tidak selalu dapat dilihat semata-mata sebagai akibat dari pilihan atau kemampuan individu. Struktur sosial dan ekonomi juga dapat menentukan akses seseorang terhadap sumber daya dan kesempatan.

Diskusi kemudian menyinggung berbagai bentuk perlindungan sosial yang diberikan negara serta sejauh mana kebijakan tersebut mampu menyelesaikan akar persoalan kemiskinan. Media juga membahas redistribusi kekayaan kepada kelompok miskin sebagai salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan dalam mengurangi ketimpangan.

Pembahasan tersebut memperluas pembacaan terhadap konsep kekuasaan dalam buku al-Kawakibi. Kekuasaan tidak hanya hadir melalui institusi politik dan figur pemimpin, tetapi juga dapat dilihat melalui distribusi sumber daya dan hubungan ekonomi antara masyarakat dan negara.

Masyarakat dan Legitimasi Kekuasaan

Persoalan lain yang dibahas adalah sikap masyarakat terhadap tokoh atau kekuasaan yang dinilai merusak. Dalam menjawab pertanyaan peserta, Media merujuk pada pandangan al-Kawakibi mengenai pentingnya mengambil jarak dari tokoh yang dianggap memiliki dampak buruk terhadap masyarakat.

“Kata al-Kawakibi, kalau tokoh itu dibenci masyarakat, jauhi sejauh-jauhnya. Hal yang sama juga selalu saya lakukan dan kami sampaikan ke teman-teman, kita harus menjauhi mereka yang betul-betul sudah pasti merusak negara. Kan gampang mendeteksinya,” ujar Media.

Pernyataan tersebut kemudian membawa pembahasan pada persoalan legitimasi. Kekuasaan tidak hanya ditopang oleh jabatan formal, tetapi juga oleh penerimaan masyarakat, jaringan sosial, dukungan kelompok, dan perhatian publik. Dalam konteks tersebut, pilihan masyarakat untuk memberikan atau menarik dukungan turut memengaruhi legitimasi suatu kekuasaan.

Diskusi juga menyoroti pentingnya dasar pengetahuan dalam menilai kekuasaan. Penilaian terhadap seorang tokoh atau pemerintah, sebagaimana kritik terhadap kekuasaan itu sendiri, perlu didasarkan pada informasi dan argumentasi yang dapat diuji.

Dengan cara itu, pemikiran al-Kawakibi tidak ditempatkan sebagai rumusan politik yang diterapkan secara mutlak, melainkan sebagai salah satu kerangka untuk membaca hubungan antara masyarakat dan kekuasaan.

Membaca Kembali Al-Kawakibi

Turos Pustaka menerbitkan Panduan Melawan Tirani untuk memperkenalkan kembali pemikiran al-Kawakibi kepada pembaca Indonesia sekaligus membuka ruang diskusi mengenai kekuasaan, ketimpangan, kebebasan berpikir, serta hubungan masyarakat dengan negara.

Diskusi di Mojok Store menunjukkan bahwa gagasan yang ditulis al-Kawakibi lebih dari satu abad lalu masih dapat digunakan untuk membicarakan persoalan kontemporer. Melalui forum tersebut, peserta tidak hanya membahas bagaimana kekuasaan terbentuk, tetapi juga kondisi sosial yang memungkinkan sebuah kekuasaan terus memperoleh dukungan dan bertahan.

Bedah Buku “Panduan Melawan Tirani”, Media Wahyudi Askar Bongkar Mengapa Kekuasaan Tiran Bisa Bertahan Tanpa Kendali Read More »

Psikologi Nalar: Glosarium

Psikologi Nalar: Glosarium Read More »

Psikologi Nalar: Ebook

Psikologi Nalar: Ebook Read More »

Infografis Logika Keimanan

Infografis Logika Keimanan Read More »

Referensi Logika keimanan

Referensi Logika keimanan Read More »