YOGYAKARTA—Dosen Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) Media Wahyudi Askar membahas hubungan antara tirani, ketimpangan ekonomi, dan ketergantungan masyarakat terhadap kekuasaan dalam diskusi buku Panduan Melawan Tirani di Mojok Store, Yogyakarta, Minggu (23/8/2026). Diskusi tersebut merupakan bagian dari rangkaian Jakal Bookshop Festival 2026 yang digelar Mojok Store bekerja sama dengan Turos Pustaka, penerbit buku ini.
Sekitar 25 peserta mengikuti diskusi yang berlangsung pukul 19.45–22.00 WIB. Pembahasan berangkat dari pemikiran Abdurrahman al-Kawakibi mengenai despotisme, kemudian berkembang ke persoalan kemiskinan struktural, relasi masyarakat dengan negara, dan kondisi yang memungkinkan kekuasaan bertahan tanpa kontrol.
Tirani Tidak Hanya Berkaitan dengan Penguasa
Panduan Melawan Tirani merupakan karya Abdurrahman al-Kawakibi, pemikir asal Suriah yang hidup pada 1854–1902. Dalam buku tersebut, al-Kawakibi membahas faktor-faktor yang memungkinkan kekuasaan despotik tumbuh dan bertahan di tengah masyarakat.
Menurut al-Kawakibi, persoalan tirani tidak hanya berkaitan dengan tindakan seorang penguasa. Kondisi agama, pendidikan, pengetahuan, ekonomi, hingga kehidupan sosial masyarakat juga memiliki hubungan dengan terbentuknya kekuasaan yang sulit dikendalikan.
Dalam diskusi, Media mengaitkan pemikiran tersebut dengan kondisi masyarakat kontemporer, termasuk hubungan antara ketimpangan ekonomi dan ketergantungan masyarakat terhadap negara.
Pembahasan itu muncul setelah Lya Fahmi, seorang psikolog yang menjadi peserta diskusi, menanyakan mengapa sebagian masyarakat belum melihat kemiskinan sebagai persoalan yang juga dipengaruhi faktor struktural. Pertanyaan tersebut berangkat dari pengalamannya menghadapi klien dengan persoalan ekonomi.
Media menjelaskan bahwa kemiskinan tidak selalu dapat dilihat semata-mata sebagai akibat dari pilihan atau kemampuan individu. Struktur sosial dan ekonomi juga dapat menentukan akses seseorang terhadap sumber daya dan kesempatan.
Diskusi kemudian menyinggung berbagai bentuk perlindungan sosial yang diberikan negara serta sejauh mana kebijakan tersebut mampu menyelesaikan akar persoalan kemiskinan. Media juga membahas redistribusi kekayaan kepada kelompok miskin sebagai salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan dalam mengurangi ketimpangan.
Pembahasan tersebut memperluas pembacaan terhadap konsep kekuasaan dalam buku al-Kawakibi. Kekuasaan tidak hanya hadir melalui institusi politik dan figur pemimpin, tetapi juga dapat dilihat melalui distribusi sumber daya dan hubungan ekonomi antara masyarakat dan negara.
Masyarakat dan Legitimasi Kekuasaan
Persoalan lain yang dibahas adalah sikap masyarakat terhadap tokoh atau kekuasaan yang dinilai merusak. Dalam menjawab pertanyaan peserta, Media merujuk pada pandangan al-Kawakibi mengenai pentingnya mengambil jarak dari tokoh yang dianggap memiliki dampak buruk terhadap masyarakat.
“Kata al-Kawakibi, kalau tokoh itu dibenci masyarakat, jauhi sejauh-jauhnya. Hal yang sama juga selalu saya lakukan dan kami sampaikan ke teman-teman, kita harus menjauhi mereka yang betul-betul sudah pasti merusak negara. Kan gampang mendeteksinya,” ujar Media.
Pernyataan tersebut kemudian membawa pembahasan pada persoalan legitimasi. Kekuasaan tidak hanya ditopang oleh jabatan formal, tetapi juga oleh penerimaan masyarakat, jaringan sosial, dukungan kelompok, dan perhatian publik. Dalam konteks tersebut, pilihan masyarakat untuk memberikan atau menarik dukungan turut memengaruhi legitimasi suatu kekuasaan.
Diskusi juga menyoroti pentingnya dasar pengetahuan dalam menilai kekuasaan. Penilaian terhadap seorang tokoh atau pemerintah, sebagaimana kritik terhadap kekuasaan itu sendiri, perlu didasarkan pada informasi dan argumentasi yang dapat diuji.
Dengan cara itu, pemikiran al-Kawakibi tidak ditempatkan sebagai rumusan politik yang diterapkan secara mutlak, melainkan sebagai salah satu kerangka untuk membaca hubungan antara masyarakat dan kekuasaan.
Membaca Kembali Al-Kawakibi
Turos Pustaka menerbitkan Panduan Melawan Tirani untuk memperkenalkan kembali pemikiran al-Kawakibi kepada pembaca Indonesia sekaligus membuka ruang diskusi mengenai kekuasaan, ketimpangan, kebebasan berpikir, serta hubungan masyarakat dengan negara.
Diskusi di Mojok Store menunjukkan bahwa gagasan yang ditulis al-Kawakibi lebih dari satu abad lalu masih dapat digunakan untuk membicarakan persoalan kontemporer. Melalui forum tersebut, peserta tidak hanya membahas bagaimana kekuasaan terbentuk, tetapi juga kondisi sosial yang memungkinkan sebuah kekuasaan terus memperoleh dukungan dan bertahan.
