Artikel

3 Ritual Keagamaan Muslim Kairo Masa Pandemi Abad ke-14 M

Dalam Kitāb al-sulūk lī-ma ‘rifa duwal al-mulūk, al-Maqrizi menulis bahwa ketika Wabah Maut Hitam (Black Death) menghantam Mesir, ada banyak kematian yang terjadi di sana. Ia mengemukakan bahwa The Black Death adalah pandemi yang paling buruk yang pernah terjadi di dunia Islam.

Al-Maqrizi melaporkan bahwa Wabah Maut Hitam menewaskan seratus orang per hari di Alexandria. Jumlah itu kemudian meningkat drastis menjadi dua ratus korban per harinya. Wabah kemudian menyebar ke seluruh Delta Nil, seperti yang ditulis al-Marziqi, “Tidak ada yang tersisa untuk mengumpulkan hasil panen.”

Ketika wabah melanda Kairo, sultan dan anggota-anggota terkemuka rezim yang berkuasa melarikan diri dari kota. Begitu wabah mencapai puncaknya di sekitar Desember 1348, dilaporkan bahwa sekitar 7.000 orang meninggal per hari.

Pandemi yang melanda Mesir, khususnya Kairo, tidak hanya mengubah pola masyarakat dari segi perekonomian, tetapi juga dari segi peribadatan.

Apa saja ritual-ritual keagamaan muslim Kairo ketika Pandemi melanda? Simak penjelasannya di bawah ini.

 

[irp posts=”13410″ name=”5 Wabah dan Taun Terkelam dalam Sejarah Manusia”]

 

1. Doa Berjamaah

Doa Berjamaah

Menurut catatan Michael Dols dalam The Black Death in the Middle East, ketika Wabah Maut Hitam sedang parah-parahnya, perintah diberlakukan di Kairo untuk berkumpul di masjid dan untuk mengucapkan doa yang direkomendasikan secara bersamaan.

Pada hari Jumat, 6 Ramadhan 749 H/28 November 1348 M, masyarakat diundang untuk berkumpul di masjid di dekat Qubbat an-Nashr untuk membaca al-Quran bersama-sama. Prosesi yang sama dilakukan di masjid-masjid yang berbeda di wilayah Kairo dan Fustat.

2. Proses Pemakaman Masal

3 Ritual Keagamaan Muslim Kairo Masa Pandemi Abad ke-14 M

Pada tahun 1430 M, ketika korban Pandemi sudah terlalu banyak, pemerintah memutuskan untuk menguburkan jenazah para korban wabah secara masal.

Sebelum dikuburkan, para jenazah korban disalatkan terlebih dahulu di musala Bab al-Nash di ujung utara gerbang Fatimid Kairo.

Setelah disalatkan para jenazah tersebut dikuburkan dalam satu makam yang besar yang bisa memuat hingga empat puluh jenazah.

 

3. Penutupan Masjid

Penutupan Masjid

Masih di tahun yang sama, Al-Maqrizi melaporkan bahwa selama pandemi berlangsung bahwa di kota Bilbays di tepi timur Delta Nil, “Masjid, toko, dan pondok-pondok dibiarkan kosong.”

Pandemi Covid-19 belum benar-benar berakhir. Mari lebih waspada dan mendisiplinkan diri untuk selalu Memamaki Masker, Menjaga Jarak, dan Mencuci Tangan.

 

Salam Literasi Indonesia.

 

[irp]

3 Ritual Keagamaan Muslim Kairo Masa Pandemi Abad ke-14 M Read More »

5 Wabah dan Taun Terkelam dalam Sejarah Manusia

Usia Peradaban manusia sudah cukup lama. Ada banyak hal yang telah terjadi dan mewujud sebagai memori kolektif bersama. Ada kemenangan, ada pula kekalahan.

Di antara sekian banyak hal itu, kenangan buruk tentang wabah dan pandemi kembali menelusup ke dalam benak banyak orang. Semua bermula ketika virus Covid-19 menyebar dan tak kunjung reda.

Di tengah-tengah masa pagebluk seperti sekarang ini, rasanya tak ada yang lebih dekat ketimbang kematian. Babak penjang perjalanan manusia di muka bumi mencatat setidaknya ada 5 jenis pandemi yang telah menelan banyak korban.

Apa saja itu? Simak pemaparannya di bawah ini.

 

[irp]

 

1. Justinian Plague (541-549 M)

Wabah pandemi dan taun dalam sejarah manusia

Justinian Plague dikenal sebagai awal dari pandemi wabah pertama yang disebabkan bakteri Yersinia Pestis. Wabah ini menyebabkan seperlima populasi di Ibukota kekaisaran Byzantium tewas.

Wabah ini dinamai sesuai dengan nama kaisar Romawi di Konstantinopel, Justinianus 1 (527-565 M). Penyebaran wabah ini meliputi seluruh Cekungan Mediterania, Eropa, dan Timur Dekat.

Pada tahun 544 M wabah ini sudah menyebar di Laut Mediterania dan bertahan di Eropa Utara dan Semenanjung Arab hingga tahun 549 M.

2. Taun Amwas (638-639 M)

Taun Amwas (638-639 M)
Taun Amwas adalah sebuah wabah yang menimpa negeri Syam pada tahun 638-639 M. Penyebabnya diyakini sebagai penyakit Pes Bubo yang muncul kembali setelah Justinian Plague pada abad ke-6 M.

Taun Amwas adalah sebuah wabah yang menimpa negeri Syam pada tahun 638-639 M. Penyebabnya diyakini sebagai penyakit Pes Bubo yang muncul kembali setelah Justinian Plague pada abad ke-6 M.

Sekitar 25.000 prajurit muslim beserta keluarganya meninggal dalam pandemi ini, termasuk Muadz bin Jabal, Yazid bin Abi SUfyan, dan Abu Ubaidah bin Jarrah.

 

3. The Black Death (1347-1351 M)

The Black Death (1347-1351 M)
The Black Death atau Maut Hitam adalah sebuah pandemi yang melanda Eropa pada abad ke-14 M. Wabah ini membunuh sepertiga hingga dua pertiga populasi Eropa.

The Black Death atau Maut Hitam adalah sebuah pandemi yang melanda Eropa pada abad ke-14 M. Wabah ini membunuh sepertiga hingga dua pertiga populasi Eropa.

Penyakit diduga berlanjut hingga tahun 1700-an, tetapi dengan intensitas dan tingkat fatalitas yang berbeda.

Salah satu dampak nyata The Black Death adalah penurunan drastis populasi eropa dan perubahan struktur sosial Eropa.

 

4. Flu Spanyol (1918-1920 M)

Flu Spanyol (1918-1920 M)
Flu Spanyol adalah pandemi influenza yang disebabkan oleh virus influenza A H1N1. Pandemi ini berlangsung dari 1918-1920. Ia pertama kali muncul di Afrika Barat dan Prancis lalu menyebar ke seluruh dunia.

Flu Spanyol adalah pandemi influenza yang disebabkan oleh virus influenza A H1N1. Pandemi ini berlangsung dari 1918-1920. Ia pertama kali muncul di Afrika Barat dan Prancis lalu menyebar ke seluruh dunia.

Selama pandemi ini berlangsung, korbannya mencapai 50 juta hingga 100 juta. Maka tak ayal, pandemi ini dianggap sebagai pandemi paling mematikan dalam sejarah manusia.

Di Indonesia sendiri, korban flu ini diperkirakan mencapai 1-1,5 juta pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

 

5. Pandemi Covid-19 (2019 M-)

Pandemi Covid-19 (2019 M-)
Pandemi Covid-19 disebabkan oleh virus corona jenis baru yang dinamakan SARS-CoV-2. Virus ini pertama kali dideteksi di Kota Wuhan, Hubei, Tiongkok pada bulan Desember 2019. Pada 11 Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkannya sebagai Pandemi.

Pandemi Covid-19 disebabkan oleh virus corona jenis baru yang dinamakan SARS-CoV-2. Virus ini pertama kali dideteksi di Kota Wuhan, Hubei, Tiongkok pada bulan Desember 2019. Pada 11 Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkannya sebagai Pandemi.

Hingga kini pandemi ini telah menewaskan lebih dari 195.755 orang dan telah menyebar ke lebih dari 210 negara dan wilayah.

Virus Covid ini masih berlangsung dan belum diketahui kapan ia akan berakhir.

Pagebluk memang membuat kita khawatir. Namun, percayalah semua ini pasti akan berakhir. Mari kita mendisiplinkan diri untuk selalu Memamaki Masker, Menjaga Jarak, dan Mencuci Tangan.

 

Salam Literasi Indonesia.

 

[irp]

5 Wabah dan Taun Terkelam dalam Sejarah Manusia Read More »

Muqaddimah Ibnu Khaldun

Buku Rekomendasi Mark Zuckerberg

Pendiri Facebook

Kitab Referensi Para Pemikir Dunia, seperti Adam Smith, Max Weber, Arnold Y. Toynbee.

MUQADDIMAH

Karya IBNU KHALDUN

Mengapa Anda Harus Memiliki Buku Ini

Tentang Ibnu Khaldun

Ibnu Khaldun (1332-1406) adalah manusia abad ke-14 yang genius dan multitalenta. Lahir di Tunisia dan wafat di Mesir, hafidz al-Quran sejak kecil ini adalah sosok yang dinamis dengan beragam profesi.

Selama masa hidupnya ia merupakan seorang ulama, hakim, ahli fikih, filsuf, ahli hukum, diplomat, pakar politik, dosen, sosiolog, sejarah, hingga seniman dan penyair.

Jauh sebelum ilmuwan Barat menemukan berbagai macam teori ilmu sosialnya, Ibnu Khaldun melalui kitab Muqaddimah-nya sudah menuliskan teori-teorinya dengan lengkap, ilmiah, dan enak dibaca.

Isi Buku

  • Metodologi Sejarah
  • Filsafat Sejarah
  • Bias Sistematis
  • Sejarah Militer
  • Kurva Laffer
  • Perpajakan
  • Teori ‘Ashobiyah
  • Teori Konflik
  • Psikologi Islam
  • Ilmu Hadis
  • Syariah dan Fikih
  • Biologi
  • Kimia
  • Astronomi
  • Fisika
  • Determinasi lingkungan
  • Meteorologi (cuaca)
  • Bahasa
  • Demografi

APA KATA MEREKA

“Sebuah buku yang tak diragukan lagi adalah karya terbesar dari jenisnya yang belum pernah diciptakan oleh pikiran siapa pun di waktu atau tempat mana pun.”

–Arnold J. Toynbee, Sejarawan Inggris.

Beberapa pemikir modern melihatnya sebagai karya pertama yang membahas tentang ilmu sosial, sosiologi, demografi, dan sejarah budaya.

-Goodreads

Muqaddimah adalah buku sejarah Islam paling penting di dunia pra-modern.

-Amazon

Yang menarik dari Muqaddimah Ibnu Khaldun adalah  fokus dan kemampuannya mengupas alur kemunculan masyarakat dan kebudayaan manusia, termasuk timbulnya kota, politik, perdagangan, hingga ilmu pengetahuan.

–Mark Zuckerberg

Deskripsi Buku

Harga Rp 399.000

DISKON 15% Menjadi

Rp 339.150

BONUS

Tasbih Digital

Jangan lewatkan penawaran menggiurkan ini, Beli Sekarang Juga!!!

ORDER MELALUI OFFICIAL MARKETPLACE

Segera Dapatkan Gratis Ongkir Maksimal

Rp 10.000

(Khusus Pemesanan Via Website dan Whatsapp)

REVIEW BUKU

TESTIMONI PEMBELI

CARA PESAN

Segera Dapatkan Gratis Ongkir Maksimal

Rp 10.000

(Khusus Pemesanan Via Website dan Whatsapp)

Pesan sekarang dan dapatkan DISKON 15%

PERSEDIAAN TERBATAS

Whatsapp

08111466119

Muqaddimah Ibnu Khaldun Read More »

KITAB AL-HIKAM IBNU ATHA’ILLAH AS-SAKANDARI

Kitab Tasawuf Sepanjang Masa yang Pernah Diterbitkan

Nasional Bestseller! Sudah dicetak lebih dari 10 kali!

Inilah mahkota sastra kaum sufi, sebuah kitab rujukan utama soal tasawuf di dunia Islam.

Meskipun kitab ini banyak diterjemahkan dalam berbagai versi, tetap saja kitab ini selalu dicari-cari orang.

Mengapa Anda Perlu Memiliki Buku Ini?

Ibarat hidup di alam yang gersang, buku ini seperti setetes air yang akan memuaskan dahaga spiritual manusia modern.

Kenapa bisa seheboh itu?

Karena kitab ini begitu tepat dan prinsipil menohok diri kita tentang bagaimana seyogianya kita menyikapi diri kita, kehidupan ini, dan Sang Khalik. Ia laksana wahyu ilahi yang sangat memukau penuh makna.

Untuk Anda yang ingin menjadi lebih bijaksana dan dipenuhi ketenangan dalam mengarungi samudra kehidupan, semoga buku ini bisa menjadi panduan. Sebuah karya fenomenal karya Ibnu Atha’illah al-Iskandari.

APA KATA MEREKA

“Hikmah-hikmah dalam kitab al-Hikam ini laksana wahyu Ilahi. Seandainya dalam shalat dibolehkan untuk membaca selain ayat-ayat al-Quran, bait-bait dalam kitab ini sangat layak untuk itu.” 

–Maulana Ibnu ‘Arabi, Sufi

KH. A. Mustafa Bisri mendudukkan kitab ini sebagai “mutiara-mutiara cemerlang untuk meningkatkan kesadaran spiritual.”

KH. Abdullah Gymnastiar (Aa’ Gym), menjadikan kitab ini sebagai salah satu materi utama pengajiannya.

KH. Said Aqiel Siradj menilainya sebagai kitab yang “sangat penting untuk para pecinta jalan spiritual.”

Deskripsi Buku

AL HIKAM (Hard Cover)

Penyusun : Ibnu Athaillah as-Sakandari

Ukuran : 15.5 x 24 cm

Halaman : 532 hlm

Berat : 750 gram

Cetakan : Desember 2019

ISBN : 978-602-7327-23-3

Penerbit : Turos Pustaka

Harga Rp 149.500

DISKON 15% Menjadi

Rp 127.075

BONUS

Tasbih Digital

Jangan lewatkan penawaran menggiurkan ini, Beli Sekarang Juga!!!

ORDER MELALUI OFFICIAL MARKETPLACE

Segera Dapatkan Subsidi Ongkir

Rp 10.000

(Khusus Pemesanan Via Website dan Whatsapp)

REVIEW KITAB AL-HIKAM

TESTIMONI PEMBELI

CARA PESAN

Segera Dapatkan Subsidi Ongkir

Rp 10.000

(Khusus Pemesanan Via Website dan Whatsapp)

Pesan sekarang dan dapatkan DISKON 15%

PERSEDIAAN TERBATAS

Whatsapp

08111466119

KITAB AL-HIKAM IBNU ATHA’ILLAH AS-SAKANDARI Read More »

Ibnu Hajar al-Asqalani, Ahli Hadis Pengarang Kitab Fathul Bari

Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Ahmad
al-Kannani al-‘Asqalani, seorang Syaikhul Islâm dan Imâm al-Hafizh pada
zamannya. Nama panggilannya Abu al-Fadhl, tetapi lebih dikenal dengan sebutan
Ibnu Hajar.

As-Sakhawi mengungkapkan, “Nama ini adalah julukan yang diambil dari salah seorang kakeknya.” Sedangkan menurut Ibnu ‘Imad, nama ini merujuk kepada keluarga Hajar (Âlu Hajar).

Kelahiran dan Masa Remaja

Ibnu Hajar dilahirkan di Mesir pada tahun 773 H. Ayahnya meninggal
dunia ketika beliau masih bocah, tepatnya pada bulan Rajab tahun 779 H, atau
saat Ibnu Hajar berusia enam tahun. Dalam hal ini, kita bisa menyimpulkan bahwa
beliau tumbuh sebagai seorang yatim.

Ibnu Hajar memulai masa remajanya dengan menghafal al-Quran, dan
dikatakan beliau memiliki hafalan yang sangat cepat. Karena itulah, pada usia
sembilan tahun beliau sudah bisa menghafal seluruh isi al-Quran di bawah
bimbingan Syekh Shadru ad-Din ashShafti.

Berkaitan dengan masalah ini al-Hâfizh as-Suyuthi menyatakan, “Pada
mulanya Ibnu Hajar fokus mendalami sastra dan syair (puisi). Namun, ketika
telah mencapai tujuannya dalam bidang ini, sejak tahun 794 H beliau mendalami
hadis.

Beliau juga banyak mendengar hadis dari berbagai sumber dan
mengembara sampai ke Irak. Di negeri tersebut, beliau berguru kepada Syekh al-Hâfizh
Abu al-Fadhl al-‘Iraqi. Tidak mengherankan jika Ibnu Hajar sangat unggul dalam
ilmu hadis, dan begitu menonjol dalam seluruh cabang keilmuan ini.”

Menginjak dewasa, Ibnu Hajar berguru kepada asy-Syams bin al-Qatthan, salah seorang penasihatnya dalam ilmu fikih dan bahasa Arab. Selain itu, beliau juga berguru ilmu fikih kepada al-Ibnasi, Balyaqni, dan Ibnu Mulqin.

Pengembaraan Ilmu

Pengembaraan keilmuan Ibnu Hajar hingga ke negeri-negeri
yang termasuk wilayah Syam, Mesir, dan Hijaz. Terbukti, beliau pernah
mengembara ke Mekah, Damaskus, Yaman, Alexandria, dan ke Qush (Afganistan) pada
tahun 793 H, sampai ke daerah Sha’id di Mesir.

Selain itu, beliau juga mempelajari hadis dari ulama-ulama Haramain (Mekah dan Madinah), Baitul Maqdis (Palestina), Nablus (Palestina), Ramlah, dan Gaza.

Guru-guru

Ibnu Hajar tercatat memiliki banyak guru yang menjadi
kepercayaannya untuk memecahkan berbagai permasalahan. Jumlah gurunya bahkan
tak tertandingi oleh siapa pun pada zamannya. Semua gurunya sangat menguasai
sekaligus paling menonjol dalam bidangnya masing-masing.

Di antaranya adalah Abu Ishaq Ibrahim bin Ahmad at-Tanukhi
al-Ba’albaki (dalam baca al-Quran atau qirâ`at), az-Zain al-‘Iraqi (dalam
bidang ilmu hadis), al-Haitsami, al-Balqini, dan Majduddin al-Fairuz Abadi
(seorang ahli bahasa), dan al-‘Izz bin Jama’ah. Karena itulah Ibnu Hajar sangat
menguasai berbagai disiplin ilmu.

Beliau mengutip (hadis-hadis) Abu al-‘Abbas dari Ahmad bin Umar
al-Baghdadi, sementara hadis-hadis Abu Hurairah beliau kutip dari Abdurrahman
bin al-Hâfizh adz-Dzahabi dan Ibnu ‘Irfah al-Maliki. Sedangkan dari kalangan
wanita, beliau mengutip dari Maryam binti al-Adzra’i.

Tidak hanya itu, Ibnu Hajar juga telah mendokumentasikan daftar
guru-gurunya yang paling menonjol berikut biografi mereka dalam karyanya yang
berjudul al-Majma’ al-Mu`assas bi al-Mu’jam al-Mufahras.

Dalam kitab tersebut beliau menuliskan biografi guru-gurunya secara
alfabetis, dan membaginya menjadi dua bagian. Pertama, mereka yang pernah
mengajarinya ilmu hadis secara riwayat (riwâyah); dan kedua, mereka yang mengajarkan
hadis secara dirayah.

Di samping itu, Ibnu Hajar juga mengklasifikasikan guru-gurunya berdasarkan ketinggian derajat mereka menjadi lima kelompok. Dalam setiap biografi masing-masing guru, beliau menuliskan hadis apa saja yang pernah beliau dengar dari guru tersebut. Sehingga sistematika penyusunan kitab itu berdasarkan hadis-hadis yang beliau dengar dari mereka.

Murid-murid

Di antara para murid yang pernah berguru kepada Ibnu Hajar adalah
Syaikhul Islâm Zakariya bin Muhammad al-Anshari, Syamsuddin Muhammad bin
Abdurrahman as-Sakhawi, Jamal Ibrahim al-Qalqasyandi, al-‘Izz bin Fahd,
al-Burhan al-Biqa’i, Syaraf Abdul Haqq as-Sinbathi, dan lain-lain.

Selain mengajar, Ibnu Hajar juga menjadi seorang mufti (pemberi
fatwa) dan pendikte hadis; memegang tampuk kepemimpinan dewan guru di berbagai
sekolah, seperti al-Hasaniyyah, al-Manshuriyyah, al-Baibarsiyyah, dan lain-lain.

Beliau juga menjadi pimpinan di lembaga pengadilan, mengarang
berbagai kitab yang sangat bermanfaat dan tak tertandingi dalam bidang ‘Ulûmul
Hadîts.

Lebih dari itu, beliau juga telah mendiktekan hadis yang beliau
hafal di lebih dari seribu majelis. Di negeri Sultan Bibars, beliau telah
mendiktekan hadis selama kurang lebih 20 tahun.

Pada masa pemerintahan Sultan al-Mua`ayyad (Mesir) beliau berkali-kali diminta menjadi hakim di negeri-negeri Syam, tetapi selalu menolak. Namun, pada akhirnya beliau menjadi hakim di Mesir pada masa pemerintahan Sultan al-Asyraf.

Karakter Keilmuan

Di antara karakter keilmuan yang dianugerahkan Allah kepada Ibnu
Hajar adalah kemampuan membacanya yang sangat cepat.

Bahkan, beliau sanggup membaca kitab Shahîh al-Bukhârî hanya dalam
sepuluh kali duduk yang dilakukan setiap selesai shalat zuhur hingga shalat
asar. Sementara kitab Shahîh Muslim beliau baca dalam lima kali duduk selama
dua setengah hari.

Beliau juga sanggup membaca kitab al-Mu’jam ash-Shaghîr karya Imam Thabrani hanya dalam sekali waktu, yaitu antara shalat zuhur hingga shalat asar. Selama sekitar dua bulan lebih beliau bermukim di Damaskus, Suriah, dan sanggup membaca hampir 100 kitab sekaligus memberi catatan-catatan singkat terhadap kitab-kitab tersebut.

Karya-karya

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani adalah
ulama yang sangat produktif dalam menulis. Karya beliau tak kurang dari 270
kitab. Di antaranya adalah:

  1. Fath al-Bârî
    Syarh Shahîh al-Bukhâri, mulai ditulis tahun 817 H, dan selesai pada hari
    pertama bulan Rajab tahun 842 H. Kitab ini telah dicetak berkali-kali.
  2. Al-Ishâbah fî Tamyîz ash-Shahâbah, dicetak di Dâr ashShâdir,
    Beirut, Lebanon.
  3. Lisân al-Mîzân, dicetak di percetakan Dârul Ma’ârif, Haidar ‘Abad,
    Deccan, India.
  4. Tahdzîb at-Tahdzîb, dicetak di India dan Mesir.
  5. Taqrîb at-Tahdzîb, dicetak di Dârul Kitâb al-‘Arabi, Mesir, tahun
    1380 H.

Dan masih banyak lagi karya-karya beliau lainnya yang sangat bermanfaat. Semoga Allah membalasnya dengan segala kebaikan Islam dan umat Islam.

Wafat

Pada
akhir hayatnya, Ibnu Hajar rahimahullâh menderita sakit, tepatnya tahun 852 H.
Hingga akhirnya meninggal karena penyakit tersebut setelah shalat isya, di
penghujung malam Sabtu, tanggal 28 Zulhijjah 852 H.

Di
antara yang ikut serta mengangkat jenazahnya adalah Sang Sultan dan para
pengiringnya. Beliau dimakamkan di daerah Bani al-Kharubi, dekat pusara Imam
al-Laits bin Sa’d yang berada di depan Masjid ad-Dailami.

Semoga
Allah menganugerahkan rahmat yang luas serta pahala yang melimpah kepadanya
dari setiap ilmu beliau yang berguna bagi agama Islam dan umatnya.

Untuk
mengetahui biografi Ibnu Hajar secara lebih detail, Anda bisa merujuk pada
kitab-kitab berikut:

  1. Adh-Dhau` al-Lâmi’ li Ahli al-Qarn at-Tâsi’ karya as-Sakhawi
    (2/36).
  2. Sadzarât adz-Dzahab, karya Ibnu al-‘Imad al-Hanbali (7/270).
  3. Al-Badru ath-Thâli’ li Mahasîn min Ba’di al-Qarni at-Tâsi’ (1/87).
  4. Husnu al-Muhâdharah karya as-Suyuthi (1/363).
  5. Dzailu Tadzkirati al-Hifâzh (hlm. 326).
  6. Dzailu Thabaqât al-Hifâzh (hlm. 380).
  7. Al-A’lâm, karya az-Zirikli (1/178).

Demikianlah,
segala puji hanya bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala amal saleh dapat
terlaksana.

Ibnu Hajar al-Asqalani, Ahli Hadis Pengarang Kitab Fathul Bari Read More »

Wabah Tha’un, Sahabat Nabi, dan Nasihat Rasulullah saw.

Dunia sedang was-was. Penyebabnya adalah virus Corona. Ini bukan kali pertama sejarah manusia diintai Tha’un epidemi. Salah satu yang masih lekat dalam ingatan adalah menyebarnya wabah Tha’un.

Dalam catatan sejarah, ketika wabah Tha’un melanda, ada ratusan ribu orang yang meninggal. Namun, yang paling terkenal terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Saat itu, wabah Tha’un di Amwas, Syam, menyebabkan dua puluh lima ribu orang meninggal.

…

Wabah Tha’un, Sahabat Nabi, dan Nasihat Rasulullah saw. Read More »

Novelis Muda Alumni Gontor Terima Penghargaan IBF Award 2020

Novelis muda Indonesia berbakat, Hangka, menerima penghargaan Islamic Book Fair (IBF) Award 2020 sebagai Buku Islam Terbaik kategori Fiksi Dewasa. Penghargaan ini diberikan dalam perhelatan IBF 2020 yang saaat ini sedang diselenggarakan di Jakarta Convention Center, Jakarta (26/2/20).

…

Novelis Muda Alumni Gontor Terima Penghargaan IBF Award 2020 Read More »

SEKILAS TENTANG IBNU KHALDUN

SEKILAS TENTANG IBNU KHALDUN – Ibnu Khaldun merupakan Ulama, Sejarawan, Sosiologi, Ilmuwan, dan Filsuf yang lahir pada awal Ramadhan 732 H bertepatan dengan 27 Mei 1332 M. Nama Lengkapnya Abu Zaid Abdul Rahman Ibnu Khaldun Waliy ad-Din at-Tunisi al-Hadrami al-Isybili al-Maliki.

Denominasi etnisnya, al-Hadrami, berasal dari Hadramaut di Arab Selatan, yang melambangkan rumah leluhur keluarganya. Menurut Ibnu Khaldun sendiri, leluhurnya termasuk suku Arab kuna yang bernama Khaldun di Arab Selatan. Keluarga ini bermigrasi ke Andalusia Spanyol pada masa penaklukan muslim di awal dekade abad ke-8.

Ibnu Khaldun merupakan keturunan keluarga aristokratis yang sangat berpengaruh yang dijunjung tinggi di Andalusia Spanyol dan Maghrib. Faktor keluarga ini membantu Ibnu Khaldun kecil untuk memperoleh pendidikan dan pengajian terbaik yang tersedia di masa itu.

Ibnu Khaldun mengalami kekerasan di antara usianya yang lima belas dan dua puluh lima tahun, baik itu sifatnya alami maupun buatan manusia. Pertengahan abad keempat belas dikenal karena periode ketidakstabilan politik luar biasa dan bencana alam dalam bentuk Kematian Hitam yang terkenal.

Dalam menyelesaikan pendidikannya, Ibnu Khaldun berguru kepada banyak ulama yang dinggah di Kota Fez, seperti: Muhammad bin Suffar, Ibrahim bin Zarrar, Muhammad al-Ballafiqi, dan sebagainya.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Ibnu Khaldun mulai terjun ke dalam intrik politik dan membuatnya kerap berpindah-pindah tempat tinggal. Pada suatu waktu dia ikut ambil bagian dalam menciptakan penyebab kenaikan atau kejatuhan suatu Dinasti, dan pada saat lain dia menyalakan api persaingan, intrik, dan perang.

Periode hidupnya ini banyak mendapat kritik dari sebagian orang yang telah melakukan studi tentang kehidupannya. Ibnu Khaldun dinilai tidak memberikan contoh yang baik tentang sikap kesetiaan dan kebaikan.

Setelah merasa lelah dengan kehidupan politik, Ibnu Khaldun pun menarik dirinya dari publik. Begitu ia mulai merasakan kedamaian, ia pun mulai menulis karya agungnya Muqaddimah di Qal’at Ibnu Salamah. Pada saat itu Ibnu Khaldun telah mencapai usia empat puluh lima tahun. Dibutuhkan waktu lima bulan baginya untuk menyelesaikan penulisan Muqaddimah, hingga pertengahan 779 H/1378 M.

SEKILAS TENTANG IBNU KHALDUN Read More »

Bagaimana Rasulullah saw. Mengabarkan perihal Diterimanya Sedekah Seseorang yang Miskin

Dikisahkan, sejumlah orang miskin menangis dan meminta Rasulullah saw. agar membawa mereka. Rasulullah menjawab:

“Aku tak memiliki sesuatu yang bisa kugunakan untuk membawa kalian.”

Maka mereka pun pergi sambil menangis. Air mata mereka bercucuran karena sedih tidak mendapatkan sesuatu yang bisa mereka infakkan.

Di tengah malam, salah seorang dari mereka bernama Ulayyah bin Yazid bangun untuk menunaikan shalat malam. Kemudian ia berdoa:

…

Bagaimana Rasulullah saw. Mengabarkan perihal Diterimanya Sedekah Seseorang yang Miskin Read More »