Imam al-Qusyairi, Tokoh Sufi Abad ke-10 M yang Memadukan Ilmu Syari’at dan Ilmu Hakikat

Imam al-Qusyairi, Tokoh Sufi Abad ke-10 M yang Memadukan Ilmu Syari’at dan Ilmu Hakikat

Selama masa hidupnya, Imam al-Qusyairi dikenal sebagai seorang pembela ahlu sunnah wal jamaah dalam menentang doktrin aliran Mu’tazilah, Karamiyah, Mujassamah, dan syi’ah. Tidak hanya itu, ia juga dikenal sebagai seorang sufi yang memadukan antara ilmu syari’at dan ilmu hakikat. Hal ini tercermin di dalam buku ar-Risalah al-Qusyairiyah yang merupakan karya paling monumental yang pernah ditulisnya.

Nama Lengkap dan Riwayat Pendidikan

Imam al-Qusyairi adalah seorang tokoh sufi Abad ke-10 M yang lahir pada 376 H/986 M di Ustu, sebuah desa kecil yang berdekatan dengan kota Naisabur, Khurasan, Iran. Nama lengkapnya Abu al-Qasim Abdul Karim bin Hawazian bin Abdul Malik bin Thalhah bin Muhammad an-Nisaburi al-Qusyairi asy-Syafi’i.

Imam al-Qusyairi, Tokoh Sufi Abad ke-10 M yang Memadukan Ilmu Syari’at dan Ilmu Hakikat
Imam al-Qusyairi, Tokoh Sufi Abad ke-10 M yang Memadukan Ilmu Syari’at dan Ilmu Hakikat

Ayah Imam al-Qusyairi wafat ketika ia masih kecil. Sepeninggal ayahnya, Imam al-Qusyairi kecil dirawat dan diasuh oleh ibunya. Setelah mulai beranjak remaja, ia terpilih menjadi salah satu utusan desa untuk mempelajari berbagai bidang keilmuan di kota Nisabur. Di kota inilah ia mulai menganut mazhab teologi Asy’ariyyah setelah ia mengikuti halakah kajian ilmu kalam pimpinan seorang teolog Sunni bernama Abu Ishaq al-Isfarayini (wafat 418 H/1027 M).

Selain itu, Imam al-Qusyairi juga mempelajari ilmu-ilmu lainnya, seperti: fikih aliran mazhab Syafi’i, ilmu hadis, sastra, dan lainnya dengan menghadiri berbagai halakah keilmuan yang diampu oleh berbagai beberapa ulama terkemuka yang ada di kota Nisabur, seperti: Abu Bakar Muhammad bin Abu Bakar al-Thusi (wafat 405 H/1016 M) dan Abu Bakar bin Faurak (wafat 406 H/1017 M). Maka tak ayal, ia sudah menguasai berbagai ilmu pengetahuan meski masih dalam usia yang relatif muda.

Perjalanan Menjadi Sufi

Pertemuannya dengan ulama sufi al-Hasan bin ‘Ali ad-Daqqaq (wafat 405 H/1015 M) di kota Nisabur memulai jalan panjangnya sebagai salah seorang tokoh sufi yang sangat berpengaruh di dunia. Dengan tuntutan dari al-Hasan bin ‘Ali ad-Daqqaq, ia pun mulai meniti hidup sebagai seorang sufi.

Pada tahun 405 H/1015 M Imam al-Qusyairi menikahi Fatimah, puteri dari guru spiritualnya, al-Hasan bin ‘Ali ad-Daqqaq. Ia adalah seorang wanita yang berilmu tinggi, beradab, dan termasuk sebagai seorang ahli zuhud yang diperhitungkan di zamannya. Dari pernikahan tersebut, Imam al-Qusyairi dikaruniai 6 orang anak.

Madrasah Al-Qusyairiyah

Setelah guru dan mertuanya wafat, Imam al-Qusyairi memimpin madrasah yang dibangun oleh al-Hasan bin ‘Ali ad-Daqqaq pada tahun 1001 M yang nantinya dikenal sebagai al-Madrasah al-Qusyairiyah.

Selama masa hidupnya, Imam al-Qusyairi dikenal sebagai seorang pembela ahlu sunnah wal jamaah dalam menentang doktrin aliran Mu’tazilah, Karamiyah, Mujassamah, dan syi’ah. Tidak hanya itu, ia juga dikenal sebagai seorang sufi yang memadukan antara ilmu syari’at dan ilmu hakikat. Hal ini tercermin di dalam buku ar-Risalah al-Qusyairiyah yang merupakan karya paling monumental yang pernah ditulisnya.

Wafat

Imam al-Qusyairi menghembuskan napas terakhirnya pada Ahad, 19 Rabi’ul Awal 465 H/2 Desember 1072 M dan dikuburkan di samping makam guru dan ayah mertuanya, al-Hasan bin ‘Ali ad-Daqqaq. Imam al-Qusyairi meninggalkan banyak karya, khususnya dalam bidang tasawuf dan masih tetap dijadikan rujukan hingga sekarang.

Semoga Allah swt. merahmati Imam al-Qusyairi dan menempatkannya dalam keluasan surga-Nya. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cari Buku

Keranjang

Bahasa

Open chat
1
Assalamualaikum, dengan Toha disini, ada yang bisa kami bantu?